Senin, 25 Mei 2009

Resume buku "Pendidikan Orang Dewasa"

NAMA: NUR HUSNUL CHOTIMAH
NO.REG: 8135072786
PRODI: PENDIDIKAN TATA NIAGA REG. 07
TUGAS: RESUME BUKU

BAB 1
PENGERTIAN PENDIDIKAN
Pengertian pendidikan ini dimaksudkan untuk menjelaskan tentang beberapa pengertian yang berhubungan dngan pendidikan orang dewasa sehingga mahasiswa dapat mengetahui ruang lingkup materi yang akan dipelajari.
Sehubungan dengan istilah pendidikan orang dewasa, sering timbul pertanyaan, misalnya apa pendidikan orang dewasa itu, apa perbedaannya dengan pendidikan yang lain, bagaimana kaitannya dengan sistem pendidikan nasional dan sebagainya.
A. PENGERTIAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA
Sejak tahun 1920 pendidikan orang dewasa telah dirumuskan dan diorganisasikan secara sistematis. Pendidikan dewasa dirumuskan sebagai suatu proses yang menumbuhkan keinginan untuk bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang hidup. Belajar bagi orang dewasa berhubungan dengan bagaimana mengarahkan diri sendiri untuk bertanya dan mencari jawabannya.
Pendidikan orang dewasa (andragogy) berbeda dengan pendidikan anak-anak (paedagogy). Pendidikan anak-anak berlangsung dalam bentuk identifikasi dan peniruan, sedangkan pendidikan orang dewasa berlangsung dalam bentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah.
Ada perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa jika ditinjau berdasarkan umur, ciri psikologis dan ciri biologis. Ditinjau dari segi umur, seseorang yang berumur antara 16-18 tahun dapat dikatakan sebagai orang dewasa dan yang kurang dari 16 tahun dapat dikatakan masih anak-anak. Ditinjau dari sisi psikologis, seseorang yang dapat mengarahkan diri sendiri, tidak selalu tergantung pada orang lain, mau bertanggung jawab, mandiri, berani mengambil resiko, dan mampu mengambil keputusan, orang tersebut dikatakan telah dewasa secara psikologis. Sedangkan ditinjau dari sisi biologis, seseorang yang telah menunjukkan tanda-tanda kelamin sekunder, orang tersebut dikatakan dewasa secara biologis.
Menurut flores, et al. (1983). Seseorang akan termotivasi untuk belajar apabila ia dapat memenuhi keinginan dasarnya. Keinginan dasar tersebut antara lain:
1. Keamanan: secara ekonomis, sosial, psikologis, dan spiritual
2. Kasih sayang atau respons: keakraban, kesukaan berkumpul dan bergaul, atau merasa memiliki.
3. Pengalaman baru: petualangan, minat, ide, cara, dan teman baru.
4. Pengakuan: status, prestise dan menjadi terkenal.
Disamping itu, faktor-faktor yang juga dapat mempengaruhi orang belajar antara lain, faktor fisik seperti suasana belajar, ruangan, penerangan dan faktor psikologi, seperti sikap pembimbing, dorongan atau dukungan teman, kebutuhan, dan lain-lain.
Pendidikan orang dewasa mempunyai beberapa definisi, tergantung pada penekanan yang dibuat oleh penyusun definisi itu. UNESCO mendifinisiskan pendidikan orang dewasa sebagai berikut:
Pendidikan orang dewasa adalah keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, apapun isi, tingkatan, metodenya, baik formal atau tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi, dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang dianngap dewasa oleh masyarakat mengmbangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam perspektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang dan bebas.
Definisi tersebut memberikan penekanan ganda, yaitu pada pencapaian perkembangan individual dan peningkatan partisipasi sosial.

B. PRINSIP PENDIDIKAN ORANG DEWASA
Prinsip pendidikan orang dewasa adalah hal penting yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pendidikan orang dewasa. Prinsip pendidikan orang dewasa terdiri dari hukum belajar, penetapan tujuan, pemilihan materi, pengembangan sikap, idealisme, minat, mengembangkan kemampuan mempertimbangkan atau menilai, kemampuan menipulatif atau psikomotorik, kemampuan berpikir atau memecahkan masalah, pembentukan kebiasaan, pengajaran isu yang kontroversial.
HUKUM BELAJAR
Hukum belajar itu terdiri dari beberapa unsur, yaitu:
1. Keinginan belajar
Keinginan belajar merupakan hal yang sangat penting yang dapat meningkatkan efektifitas belajar,. Keinginan belajar dapat timbul karena rasa tertarik yang mendalam terhadap suatu objek. Oleh karena itu, peserta didik perlu mempunyai keinginan belajar jika ingin berhasil. Tanpa keinginan belajar, rasanya peserta didik sulit dapat berhasil.
2. Pengertian terhadap tugas
Peserta didik harus memperoleh pengertian yang jelas tentang apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ia harus mengetahui apa yang perlu dibaca, apa yang perlu dicatat, dan apa yang perlu dilakukan agar dipelajarinya “memberi makan anak dirumah”. Dalam hal ini aktivitas yang mengikutsertakan penalaran, pertimbangan dan berpikir kreatif merupakan latihan yang baik bagi orang dewasa.
3. Hukum asosiasi
Belajar dengan menghubugkan ide atau fakta dengan ide atau fakta lain cenderung dapat menhasilkan ingatan yang lebih permanen daripada apabila tidak mengubungkannya. Belajar dengan menghubungkan tersebut adalah salah satu ciri kelebihan orang dewasa dibanding anak-anak, sebab orang dewasa lebih banyak mempunyai banyak stok ide atau informasi yang dapat menarik pelajaran baru. Ciri penting hukum asosiasi adalah bahwa ide atau pengalaman baru akan menimbulkan emosi, jika dihubungkan dengan ide atau pengalaman nyata sebelumnya. Hal ini akan sangat berguna untuk meningkatkan semangat.
4. Minat, keuletan, dan intensitas
Penelitian telah membuktikan bahwa minat atau rasa tertarik, keulatan atau kegigihan, dan intensitas sangat berpengaruh dalam meningkatkan keberhasilan belajar, dan hal ini telah diterapkan baik bagi orang dewasa maupun pada anak-anak.
Keuletan dan intensitas dari suatu pengalaman mempunyai pengaruh yang membekas pada ingatan. Jika mina tinggi, peserta didik akan merasa terikat dengan tugasnya, memberikan perhatian yang besar terhadap apa yang dia kerjakan dan menikmati pekerjaannya.
5. Ketetapan hati
Ketetapan hati sangat menentukan apakah seseorang akan tetap melanjutkan aktivitasnya atau tidak sama sekali. Sedangkan prasangka, kecurigaan, dan ketertutupan semuanya akan menghambat proses belajar yang efektif. Seorang peserta didik harusnya mempunyai ketetapan hati, yakni kesediaan untuk menerima ide-ide baru walaupun mungkin ia tidak ingin menerapkannya. Sebagian besar orang yang mendaftar dalam pedidikan orang dewasa mempenyai keinginan untuk mencoba ide baru, menerima atas dasar manfaat yang akan diperolehnya.
6. Pengetahuan mengenai keberhasilan dan kegagalan
Seorang pesrta dalam pendidikan orang dewasa tidak akan memperoleh kemajuan dalam proses belajarnya kecuali ia mengetahui dalam hal apa saja ia berhasil dengan baik dan dalam hal apa saja ia gagal. Situasi yang sangat dikehendaki dalam pendidikan orang dewasa adalah situasi dimana orang dewasa mampu menilai pekerjaannya sendiri dengan menggnakan kriteria atau standar yang dirancang khusus untuk pekerjaan itu.

PENETAPAN TUJUAN
Kunci keberhasilan dalam pendidikan orang dewasa adalah mempunyai tujuan khusus tentang perilaku maupun performansi yang jelas dan bergerak menuju ke tujuan tersebut secara konsisten.
1. Tujuan umum
Tujuan Pendidikan Nasional yang dirumuskan oleh MPR, yaitu meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. (GBHN, 1978)
2. Maksud Pendidikan
Di Indonesia, pendidikan berurusan dengan pembinaan dan pengembangan daya-daya yang melekat pada diri manusia, yaitu daya fisik, daya nalar, daya rasa, daya cipta, daya karsa dan daya budi. Dalam Pendidikan Pancasila, manifestasi dari daya-daya tersebut diharapkan akan membuahkan manusia Indonesia yang sehat jiwa dan raganya, takwa kepda Tuhan Yang Maha Esa, luhur budi pekertinya, mencintai bangsa dan sesama manusia, menghayati kedudukan hak dan kewajibannya selaku warga negara dan anggota masyarakat, serta memiliki kemampuan dan tanggung jawab sosial untuk berparisipasi di dalam proses pembangunan nasional menuju terwujudnya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

MENGEMBANGKAN SIKAP , IDEALISME, DAN MINAT
1. Sikap
Istilah sikap disini berarti perasaan orang terhadap orang lain, ide, lembaga, fakta, dan lainnya. Pendidik yang ahli akan segera mengenal bahwa pengembangan sikap tidak dapat diremehkan begitu saja. Kualitas emosional ini idak timbul dengan sendirinnya ketika pembimbing memberikan informasi sekadarnya. Pengemnagan sikap ini harus dimasukkan kedalam tujuan khusus yang ada dalam setiap unit pengajran dan perencanaan, yang jelas harus direncanakan dengan baik sehingga tujuan khusus yang telah ditetapkan tersebut dapat dicapai. Hal ini dapat dikerjakan melalui:
a. Seleksi materi
b. Metode mengajar yang digunakan
c. Aktiviras yang harus dilakukan oleh peserta
d. Perlengkapan dan alat yang tersedia
2. Idealisme
Idealisme adalah suatu standar kesempurnaan yang diterima oleh individu atau kelompok. Idealisme cenderung bersifat subjektif, tetapi nyata san sangat penting dalam pendidikan anak-anak maupun orang dewasa.
Idealisme yang sangat perlu ditanamkan pada generasi muda Indonesia adalah kejujuran, kedisiplinan, etos kerja, dan kebersihan yang dirasa masih belum diresapi sepenuhnya.
3. Minat
Minat merupakan keinginan yang datang dari hati nurani untuk ikut serta dalam kegiatan belajar. Makin besar minatnya, makin besar semangat dan makin besar hasil kerjanya. Minat yang bersifat sementara akan mempertahankan perhatian dan mendorong keaktifan orang dewasa lebih banyak. Minat yang permanen merupakan merupakan hasil yang paling bernilai dalam semua pendidikan.
Berikut ini adalh cara-cara untuk mengembangkan minat sementara maupun minat permanen:
a. Pembimbing atau pendidik harus menunjukkan antusias yang tulus untu menyukseskan kursus dan kegiatan pendidikan lain
b. Peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengetahui secara jelas melalui jalan pikirannya sendiri tentang subjek yang dipelajari
c. Peserta didik harus memperoleh pengetahuan pokok yang berhubungan dengan topik yang dipelajari dan harus mempunyai pengertian yang jelas mengenai hubungan antara topik dengan pengetahuan utama utama tersebut.
d. Pengetahuan yang terkait tersebut harus dibiarkan berkembang selam kursus
e. Rasa tertarik yang tinggi harus terus dipertahankan disetiap pertemuan kelompok
f. Pendidik harus membantu peserta didik untuk mengukur kemajuan mereka sendiri
g. Pendidik harus menunjukkan rasa senagn terlibat dalam proses belajar bersama peserta didik daripada menonjolkan pendapatan pribadinya
h. Suasana belajar pada setiap pertemuan harus akrab, gembira, senag, sopan, dan demokratis.
MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN
1. Mengembangkan kemampuan menilai atau mempertimbangkan
Dalam mengembangkan pengetahuan menilai atau mempertimbangkan sebaiknya kita menggunakan tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Pilih situasi yang akan dinilai dan analisis
b. Persiapkan peserta didik atau pelajar
c. Tentukan kriteria dan standarnya, beri bobot pada masing-masing kriteria
d. Peserta didik kemudian harus menggunakan kriteria tersebut terhadap sejumlah kasus dan beritahukan cara menilainya. Setelah selesai menilai, pembimbing harus memeriksanya dan tekankan mana yang sudah benar dan mana yang masih salah.
e. Pendidik harus selalu ingat bahwa latihan dalam menilai/mempertimbangkan tanpa pengertian dan penerapan prinsip adalah sia-sia
f. Minta peserta didik berlatih membuat penilaian, dibawah bimbingan instruktur, sampai ia mampu membuat penilaian dengan baik.
2. Mengembangkan kemampuan manipulatif atau psikomotor
Teknik untuk mengembangkan kemampuan manipulatif atau psikomotor dikenal dengan Job Instruction Training for Short (Latihan Instruksi Kerja Jangka Pendek). Metode ini sangat baik untuk mengajar kemampuan manipulatif.
Beriku ini adalah 4 langkah dalam Job Instruction Training:
a. Persiapkan peserta didik.
Usahakan mereka santai; dapatkan perhatian peserta didik, terangkan apa yang harus dikerjakan, mengapa hal itu perlu dikerjakan; cari informasi tentang apa yang mereka ketahui sebelumnya mengenai apa yang akan dikerjakan, tumbuhkan mminatnya untuk mengerjakan dengan benar, usahakan mereka berada di dekat kita dalam menghadapi pekerjaan.
b. Ajarkan apa yang perlu diajarkan
Ajarkan tahap demi tahap pada suatu waktu. Tekankan hal-hal yang penting-sesuatu yang akan meningkatkan kualitas. Menghindari kecelakaan dan mempermudah pekerjaan. Jangan coba untuk mengajar terlalu banyak pada satu waktu.
c. Praktikkan kepada peserta didik
Beri kesempatan mencoba; minta mereka memperlihatkan dan menceritakan mengapa setiap tahap harus dikerjakan, minta mereka menjelaskan kata kuncinya, tanyakan kepada mereka dan perbaiki semua kesalahan; teruskan sampai mereka tahu.
d. Tidak lanjut
1. Beri mereka kesempatan mencoba sendiri
2. Beri kesempatan peserta didik mengulangi sampai mereka keterampilan untuk mengerjakannya.
3. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah

Langkah pemecahan masalah yaitu sebagai berikut:
a. Pengenalan problema. Tetapkan problema;pisahkan dari problema yang lain dan dsri materi yang tidak ada sangkut pautnya; tentukan batasan ruang lingkupnya.
b. Buat daftar kemungkinan pemecahan masalah atau hipotesisnya; mungkin satu atau lebih dan sebagian besar berdasarkan fakta yang telah dikenal.
c. Kumpulkan semua fakta yang tersedia yang dapat mendukung setiap atau semua pemecahan masalah tentatif; mungkin merupakan aturan umum yang terbaik untuk mengambil setiap pemecahan tentatif pada suatu waktu; terutama jika memerlukan sejumlah penelitian untuk memecahkan masalah mereka.
d. Organisasikan dan pertimbangkan semua fakta yang mendukung dan fakta yang tidak mendukung pemecahan masalah tentatif tersebut.
e. Tetapkan kesimpulan tentatif. Setelah semua fakta yang tersedia terkumpul, tertabulasi, dan dipertimbangkan maka kesimpulan tentatif dapat ditetapkan jika fakta-faktanya mendukung.
f. Cek kesimpulan tentatif yang ditetapkan. Sebelum menerima kesimpulan sebagai kesimpulan akhir, maka perlu dicek terlebih dahulu.
g. Perbaiki semua kelemahan sesuai dengan aoa yang sudah dicek sebelumnya
h. Generalisasikan kesimpulan jika semua sudah setuju.




MENDISKUSIKAN ISU KONTROVERSIAL
1. Kriteria untuk memilih isu kontroversial
a. apakah isu tersebut penting dan waktunya tepat?
b. apakah isu tersebut menarik perhatian masyarakat?
c. apakah isu tersebut dapat dimengerti masyarakat pada waktu yang terbatas?
d. apakah ada materi yang dapat dipercaya sebagai petunjuk terhadap isu tersebut?
e. apakah pimpinan mengetahui tentang isu tersebut atau adakah kelompok tertentu yang meminta bantuan kepada pihak yang mengetahuinya?
f. apakah pemikiran terhadap isu tersebut nantinya dapat diterina oleh masyarakat?
g. apakah isu tersebut terlalu menimbulkan emosi masyarakat pada waktu tertentu jika masyrakat menerima pemikiran yang terbuka?
h. apakah pemikiran terhadap isu tersebut akan membawa keadaan yang lebih baik pada waktu yang akan datang?

3. Cara mendiskusikan isu kontroversial
Tahapan berikut ini disarankan untuk dilaksanakan dalam mendiskusikan isu kontroversial:
a. Tentukan isu atau problem secara jelas.
b. Bagi isu tersebut menjadi berbagai segmen
c. Buat daftar kemungkinan pemecahan masalah yang diusulkan oleh anggota.
d. Kumpulkan dan catat informasi tentang isu tersebut. Sebarkan informasi tersebut kepada semua anggota kelompok.
e. Susun informasi secara berurtan dan tanpa distorsi
f. Nilai informasi tersebut. Cari keslahan, bias, prasangka, dan ketidakkonsistenan.
g. Setiap kemungkinan pemecahan harus dipertimbangkan dengan menggunakan data yang ada
h. Susun kemungkinan apabila informasi menunjangnya. Waktu yang digunakan untuk mempelajri isu tidak akan hilang percuma walaupun kesimpulan belum tercapai.


CARA MEMBENTUK KEBIASAAN

Aturan umum yang tertulis dibawah ini dapat membantu bagaimana membentuk kebiasaan baru yang baik dan membuang kebiasaan lama yang jelek.

1. Temukan konsep kebiasaan baru yang ingin dikembangkan sejelas mungkin. Jika anda tidak mengetahui kemana anda pergi maka anda tidak akan sampai ke tempat tujuan
2. Mulailah kebiasaan baru dengan kemauan yang kuat.
3. Jangan biarkan pengecualian terjadi sampai kebiasaan baru tersebut benar-benar berakar. Contoh: anda ingin mengakhiri kebiasaan anda merokok; berhentilah sama sekali pada suatu saat, lakukan terus dan jangan sampai memutuskan kebiasaan baru tersebut.
4. Latihlah kebiasaan baru tersebut pada setiap kesempatan walaupun dalam keadaaan sibuk, carilah kesempatan untuk berlatih.
5. Latihan dengan selang waktu yang agak lama akan lebih baik daripada latihan secara intensif dengan waktu yang relatif singkat. Contoh; jika anda ingin bermain tennis dengan baik, anda akan belajar lebih banyak dengan cara bermain 1jam/hari dengan waktu 100hari daripada bermain 10jam perhari dalam waktu sepuluh hari.
6. Latihan hendaknya dilakukan sesempurna mungkin. Contoh; kita semua telah banyak menulis, tetapi tulisan kita tidak meningkat malahan sering menjadi buruk. Masalahnya kita tidak berltih dengan benar.
7. Situasi dan kondisi hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga menyenangkan.
8. Pembentukan kebiasaan baru hendaknya sebagai hasil dari dorongan dirinya sendiri.




BAB 2
PROSES BELAJAR MENGAJAR ORANG DEWASA

A. TAHAP PROSES BELAJAR

Melalui proses belajar, seorang pelajar atau peserta didik yang tidak tahu suatu hal menjadi tahu. Proses belajar ini sebenarnya merupakan masalah yang komplex. Dikatakan demikian karena proses belajar terjadi dalam diri seseorang yang sedang melakukan kegiatan belajar tanpa dapat terlihat secara lahiriah (terjadi dalam pikiran orang).
Oleh karena itu proses belajar tersebut disebut proses intern. Sedangkan yang tampak dari luar adalah proses ekstern yang merupakan pencerminan terjadinya proses intern dalam diri peserta didik.
Proses belajar yang terjadi dalam diri seseorang yang sedang belajar berlangsung melalui 6 tahapan, yaitu 1)motivasi, 2)perhatian pada pelajaran, 3)menerima dan mengingat, 4)reproduksi, 5)generalisasi, dan 6)melaksanakan tugas belajar dan umpan balik

1. Motivasi
Motivasi adalah keinginan untuk mencapai sesuatu hal. Sedangkan motivasi jangka pendek berupa minat untuk belajar pada saat itu, dan motivasi jangka panjang dapat berupa keinginan mendapat nilai ujian yang baik, keinginan berprestasi, dan sebagainya.

2. Perhatian pada pelajaran
Dilihat darisudut pandang psikologi, penarik perhatian seseorang mempunyai ciri-ciri: 1) gerakan, 2) stimuli yang intensif, 3) baru dan 4) pengulangan. Selanjutnya faktor-faktor situasional yang mempengaruhi perhatian seseorang adalah: 1) daya tarik fisik, 2) hadiah atau pujian, 3) keakraban, 4) kedekatan, dan 5) kemampuan.
Dengan mengetahui ciri-ciri dan faktor-faktor yang mempengaruhi perhatian tersebut, pendidik dapat mengusahakan agar pesert didik tetap menaruh perhatian terhadap materi yang diberikan

3. Menerima dan mengingat
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penerimaan dan pengingatan ini, sperti struktur, makna, pengulangan pelajaran dan interverensi.

Struktur è deretan angka 12345 akan lebih mudah diterima dan diingat daripada deretan angka 32451

Makna è jika suatu pelajaran ada hubungannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik, maka pelajaran itu akan lebih bermakna dan akan lebih mudah diterima dan diingat.

Pengulangan è pengulangan suatu pelajaran akan meningkatkan daya ingat peserta didik. Pendidik dapat mengulangi lagi secara garis besar pada pelajaran berikutnya, atau dapat meminta peserta didik untuk mengulangi pokok-pokokpelajaran kepada teman-temannya.

Interverensi è interverensi adalah kekalutan dalam pikiran seseorang yang sedang belajar akibat terlalu banyak menerima pelajaran sehingga pelajaran tersebut menjadi berdesak-desakan dalam pikirannya. Interverensi dapat dicegah oleh pendidik dengan: 1) memberikan tidak terlalu banyak bahan pelajaran, 2) menjelaskan struktur pelajaran, 3) memberikan istirahat singkat, 4) menggambarkan bagan, 5) memberikan bahan tertulis. Makin sedikit kekalutan yang terjadi, akan makin baik bagi proses belajar.

4. Reproduksi
Agar peserta didik mampu melakukan reproduksi, pendidik perlu menyajikan pelajaran dengan cara yang mengesankan. Informasi yang makin mengesankan, makin mudah diproduksi, suatu informasi akan lebih mengesankan, jika informasi itu: a) jelas strukturnya, b) jelas garis arahnya, c) diberikan dengan cara yang menyentuh perasaan, dengan contoh-contoh nyata, dengan menggunakan alat peraga, dengan gurauan yang segar, serta dengan cara-cara lain yang menarik perhatian.

5. Generalisasi
Pada tahap generalisasi ini, peserta didik harus mampu menerapkan hal yang telah dipelajari di tempat lain dan dalam ruang lingkup yang lebih luas. Generalisasi juga dapat diartikan penerapan hal yang telah dipelajari dari situasi yang satu ke situasi yang lain.

6. Menerapkan Apa Yang Telah Diajarkan serta Umpan Balik
Untuk meyakinkan bahwa peserta didik telah benar-benar memahami, maka pembimbing dapat memberikan tugas atau tes yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Selanjutnya, pendidik memberikan umpan balik berupa penjelasan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan begitu peserta didik dapat mengetahui seberapa jauh ia memahami apa yang diajarkan dan dapat mengoreksi dirinya sendiri.


B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI BELAJAR

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang dewasa ketika dia berada dalam situasi belajar. Faktor-faktor tersebut mencakup faktor internal dan eksternal. Faktor internal fisik mencakup ciri-ciri pribadi seperti umur, pendengaran, dan pengelihatan. Faktor internal non fisik atau psikologis mencakup tingkat aspirasi, bakat, dll.
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri peserta didik atau lingkungan.
Ada faktor yang mempengaruhi proses belajar orang dewasa yang belum dibahas, yaitu ciri0ciri belajar orang dewasa, suasana belajar yang kondusif, sikap dan kegiatan yang memperlancar proses belajar tersebut. Jika ingin melaksanakan pendidikan orang dewasa dengan sukses, semua faktor yang mempengaruhi belajar itu harus diperhatikan dengan cermat.


C. CIRI-CIRI BELAJAR ORANG DEWASA

Cara belajar orang dewasa berbeda dengan cara belajar anak-anak. Oleh karena itu, proses pembelajarannya harus memperhatikan ciri-ciri belajar orang dewasa berikut:
1. memungkinkan timbulnya pertukaran pendapat, tuntutan, dan nilai-nilai
2. memungkinkan terjadi komunikasi timbal balik
3. suasana belajar yang diharapkan adalah suasana yang menyenangkan dan menantang
4. mengutamakan peran peserta didik
5. orang dewasa akan belajar jika pendapatnya dihargai
6. belajar orang dewasa bersifat unik
7. perlu adanya saling percaya antara pembimbing dan peserta didik
8. orang dewasa umumnya mempunyai pendapat yang berbeda
9. orang dewasa mempunyai kecerdasan yang beragam
10. kemungkinan terjadinya berbagai cara belajar
11. orang dewasa belajar ingin mengetahui kelebihan dan kekurangannya
12. orientasi belajar orang dewasa terpusat pada kehidupan nyata
13. motivasi berasal dari dirinya sendiri.


D. SUASANA BELAJAR YANG KONDUSIF

Berikut ini adalah suasana belajar yang dianjurkan oleh Lunandi (1982):
1. Kumpulan manusia aktif
2. Suasana saling menghormati
3. Suasana saling menghargai
4. Suasana saling menghormati
5. Suasana penemuan diri
6. Suasana tidak mengancam
7. Suasana keterbukaan
8. Suasana mengakui kekhasan pribadi
9. Suasana memperbolehkan perbedaan
10. Suasana mengakui hak
11. Suasana membolehkan keragu-raguan

E. FUNGSI PENDIDIK

1. penyebar pengetahuan
2. pelatih keterampilan
3. perancang pengalaman belajar
4. pelancar proses belajar
5. sumber belajar
6. pemimpin kegiatan belajar mengajar
7. penjelas tujuan belajar
8. tutor simulasi
9. fasilitator Kejar


F. SIKAP PENDIDIK

Sikap pendidik yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. bekerjasama dengan suasana hati awal yang menyenangkan
2. tenggang rasa (empati)
3. wajar (jujur, apa adanya, terus terang, konsisten, dan terbuka)
4. respek, mempunyai pendangan positif kepada peserta didik
5. komitmen terhadap kehadiran, bersedia menghadirkan diri secara penuh
6. mengakui kehadiran dan menghargai peserta didik
7. membuka diri
8. tidak menjadi ahli, menjawab setiap pertanyaan seolah-seolah menjadi ahli dalam segala hal
9. tidak diskriminatif
10. Suka membantu, periang, humoris, akrab, menunjukkan perhatian
11. membangkitkan keinginan belajar
12. tegas, menguasai kelas, membangkitkan rasa hormat
13. tidak memotong bicara dan menanggapi pertanyaan/komentar dengan tidak emosi
14. tidak suka mengomel, mencela, mengejek, dan menyindir.
15. menerima gagasan yang mungkin bertentangan dengan harapan yang diinginkan
16. memberi dorongan peserta didik dalam mengembangkan pribadinya
17. mampu mengorganisasikan kelompok belajar
18. menumbuhkan prakarsa dan meningkatkan partisipasi peserta didik
19. menerima keterbatasan diri


G. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP DAN FUNGSI PENDIDIK

1. Karakteristik Program Pendidikan
Tujuan dan Rancangan Pendidikan. Tujuan dan rancangan pendidikan sangat mempengaruhi sikap dan fungsi pendidik. Jika tujuannya akan menyampaikan pengetahuan baru, fungsi pendidik lebih sebagai penceramah, sedangkan jika tujuannya ingin peningkatan efektifitas kerja sama dalam organisasi, fungsi pembimbing lebih sebagai konsultan.

Lama Pendidikan. Pada program yang lebih lam (misalnya 1 atau 2 minggu), pendidik dapat menggunakan metode yang menggunakan metode analisis dalam seperti permainan peran (role play), diskusi kelompok, atau studi kasus.

Harapan Penyelenggara. Pendidikan orang dewasa dapat diselenggarakan oleh berbagai organisasi. Harapan dan tujuan dari lembaga penyelenggara ini harus diperhatikan sehingga pendidik dapat menentukan gaya, fungsi dan sikapnya dalam proses belajar mengajar.

2. Karakteristik Peserta Didik
Komposisi pesera didik. Contoh: mengahadpi peserta didik yang mempunyai status sosial yang tinggi, lebih tua umurnya, lebih rendah tingkat pendidikannya, lebih lambat belajarnya, atau lebih pendiam sifatnya, pendidik harus lebih bersabar.

Harapan peserta didik. Peserta didik biasanya berharap dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dll. Pendidik sebaiknya mengetahui apa yang menjadi harapan peserta didik. Harapan peserta didik terkadang terlalu tinggi sehingga kurang proporsional. Oleh karena itu pendidik perlu mendudukkan harapan itu sesuai dengan kewajaran dan menjelaskan kepada peserta didik.

3. Karakteristik Pendidik
Profesi Pendidik. Pendidik sebagai pribadi mempunyai latar belakang profesi, hobi, pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan tertentu. Hal itu semua akan menentukan sikap pendidik. Dengan memperhatikan metode dan prinsip pendidikan orang dewasa, pendidik akan mampu mengubah gaya dan fokus perhatiannya.

Keadaan Pendidik. Keadaan pendidik seperti kecapaian, kekhawatiran, kemarahan dan kebingungan akan dapat memengaruhi aktivitas dalam memberikan didikan atau bimbingan. Oleh karena itu perlu dihindari mendidik kelompok belajar langsung setiba dari perjalanan. Disamping itu diperlukan kemampuan untuk melupakan persoalan diluar kelas yang menganggu pikirannya selama mendidik (membimbing).




BAB 3
PERENCANAAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA

A. KOMPONEN PERENCANAAN PENDIDIKAN

1. Peserta didik. Dalam pendidikan luar sekolah (termasuk pendidikan orang dewasa) harus memprtimbangkan kondisi peserta didik, sperti perbedaan umur, kelamin, sosial, ekonomi, latar belakang, pendidikan, pengalaman, dsb.
2. Tujuan belajar. Pendekatannya lebih berat pada peningkatan kemampuan dan keterampilan praktis dalam waktu singkat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
3. Sumber Belajar (Pembimbing). Diupayakan sumber belajar ini diambil dari warga masyarakat setempat yang sudah megetahui keadaan setempat
4. Kurikulum. Kurikulum untuk pendidikan luar sekolah biasanya sangat sederhana dan sesuai kebijakan pemerintah setempat.
5. Organisasi Pelaksana. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah siapa pelaksananya, apa kegiatanya, bagaiman susunan personalianya, apa perlengkapannya, darimana sumber dananya, dan siapa penanggung jawabnya.
6. Kondisi Masyarakat setempat.
7. Kemanfaatan Langsung. Isi program pendidik harus berhubungan atau sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
8. Struktur Organisasi. Diupayakan agar struktur organisasi sesederhana mungkin , tidak rumit dan berbelit-belit.

B. PERENCANAAN PARTISIPATIF

1. Prinsip Perencanaan Partisipatif

a. Hubungan dengan masyarakat. Antara lembaga pendidikan dan masyarakat perlu ada hubungan yang harmonis.
b. Partisipan. Pihak yang layak diikutsertakan dalam perencanaan pendidikan harus memiliki syarat sebagai berikut:
1) tertarik akan masalah-masalah pendidikan
2) mau belajar dari ahli perencana pendidikan
3) memiliki kemampuan intelektual
4) paham masalh pendidikan
5) merupakan kelompok yang diharapkan dapat bekerja efektif
c. Teknik kerja kelompok. Tiga teknik kerja kelompok yang dianjurkan: 1. Pertemuan kelompok, 2. Proses kelompok nominal, 3. Teknik delphi
d. Ramalan dan pembuatan program. Ramalan yang mempunyai arti (1) Ramalan yang terbatas, yakni perkiraan yang akan terjadi di organisasi pendidikan dan (2) Ramalan yang lebih luas, yakni perkiraan kegiatan atau progran organisasinya yang sesuai dengan hasil ramalan dengan lingkungannya.
e. Pengambilan keputusan. Dasar pengambilan keputusan ada 5, yakni: 1) paksaan, 2) hadiah, 3) referensi, 4) peraturan atau hukum, dan 5) keahlian

2. Prosedur Perencanaan Partisipatif
a. menentukan kebutuhan atas dasar antisipasi terhadap perubahan lingkungan
b. melakukan ramalan dan menentukan program, tujuan, misi, perencanaan prioritas
c. menspesifikasi tujuan
d. menentukan standar performasi
e. menentukan alat/metode/alternatif pemecahan
f. melakukan implementasi dan menilai
g. mengadakan review

disamping itu, dalam pelatihan partisipatif terdapat prosedur yang perlu dilakukan oleh fasilitator, antara lain:
a. identifikasi kebutuhan dan tingkat kebutuhan
b. identifikasi faktor pendukung dan sumber daya lain
c. merumuskan tujuan pelatihan
d. memilih dan menetapkan isi dan muatan atau bahan yang relevan dengan masalah yang dihadapi
e. membangun hubungan logis dan mengarah pada tujuan
f. merencanakan dan memperkirakan kebutuhan waktu yang sesuai
g. memikirkan dan menyusun langkah-langkah yang tepat
h. memilih dan menggunakan metode yang tepat
i. menentukan waktu pelaksanaan
j. mengusahakan jangan sampai ada waktu yang sia-sia
k. mempersiapkan sarana / media belajar lainnya
l. menentukan tempat pelatihan, pengaturan ruangan dan penyediaan logistik penunjang lainnya.

C. PERISTIWA PENGAJARAN

Peristiwa pengajaran mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Memperoleh perhatian peserta didik
2. Memberitahu tujuan khusus pengajaran kepada peserta didik
3. Membantu peserta didik mengingat kembali pengetahuan yang telah dimiliki
4. Menyajikan materi pelajaran
5. Memberi bimbingan belajar
6. Memperoleh performansi
7. Memberi umpan balik tentang perbaikan performansi
8. Menilai performansi peserta didik
9. Meningkatkan retensi dan transfer



D. RANCANGAN PENGAJARAN

1. Identifikasi tujuan umum pengajaran
Menurut Winecoff (1988), tujuan umum pengajaran mewakili tingkat umum pembelajaran peserta didik yang diharapkan dan sering mencakup ketiga ranah dan dimensi akademik serta keterampilan. Untuk merumuskan tujuan umum pengajaran terdapat kriteria, menurut Dick & Carey, kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
a. pernyataaan umum dan jelas tentang hasil belajar
b. penjelasan tentang hal yang akan dicapai peserta didik
c. secara jelas berhubungan dengan kebutuhan yang telah ditetapkan
d. dapatdicapai dengan baik, jika menggunakan pengajaran daripada alat lain.

2. Melakukan Analisis Pengajaran
Analisis pengajaran biasanya dilakukan dengan membuat diagram. Prosedur analisis pengajaran terdiri atas dua langkah yakni 1) mengklasifikasi tujuan umum kedalam domain pengajaran dan 2) menentukan langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan umum tersebut.
Jenis analisis pengajaran: 1) prosedural, 2) keterampilan psikomotor, 3) kluster. Dalam suatu analisis pengajaran dapat menggunakan satu jenis analisis, dapat pula menggunakan gabungan dari dua atau tiga jenis analisis.

3. Identifikasi Tingkah Laku Dasar dan Ciri-Ciri Peserta Didik
Menurut Dick & Carey, identitas peserta didik dapat dijelaskan dalam dua hal yakni ciri umum dan tingkah laku dasar. Tingkah laku yang dimaksud adalah keterampilan khsusus yang harus diperagakan oleh setiap peserta didik pada saat awal kegiatan pengajaran, dan harus dirumuskan sebagai sub keterampilan dalam analisis pengajaran. Sebaliknya, ciri-ciri umum meliputi aspek-aspek yang lebih luas. Ciri umum yang penting adalah kemampuan intelektual. Untuk mengidentifikasinya dapat dilakukan tes masuk.

4. Merumuskan Tujuan Performansi
Dalam menentukan tujuan performansi ada standarnya . setiap rumusan standar performansi disaran kan mencakup 6 elemen ( Hamrew dalam Kusumo & Wilis, 1989), yakni: 1) siapa? (peserta didik), 2) apa yang akan dia kerjakan? (perilaku), 3) materi apa yang digunakan? (kondisi), 4) siapa yang mempunyai ide? (pendidik), 5) respons apa yang diterima? (tingkat performansi), 6) apakah ada persyaratannya? (kondisi)
Tujuan performansi ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menyususn materi pengajaran, strategi pengajaran, evaluasi, dan memilih alat audiovisual yang sesuai.

5. Mengembangkan Butir-Butir Tes Acua Patokan
Untuk setiap tujuan khusus yang telah ditetapkan, perlu ada tes untuk mengukurnya. Dick & Carey membagi tes acuan patokan menjadi empat jenis tes , sebagai berikut:
a. Tes Masuk (entry behaviour test). Item tes masuk ini harus sesuai dengan keterampilan yang harus dimiliki peserta didik untuk memulai proses belajar.
b. Tes Awal (pretest). Item tes ini mengukur keterampilan , pengetahuan, dan sikap yang akan diajarkan. Maksud tes ini adalah mengukur seberapa jauh sikap peserta didik telah megetahui pelajaran sebelum pelajaran diajarkan. Tes ini harus menilai semua tujuan khusus yang telah ditetapkan.
c. Tes Kemajuan (embedded test). Item tes ini memberikan informasi kepada pendidik atau pembimbing tentang apakah peserta didik mampu mempergunakan keterampilan baru atau tidak. Tes ini dilakukan selama pengajaran berlangsung, dan biasanya berbentuk kuis, latihan, atau pertanyaan lisan. Biasanya tes ini mengukur kemampuan intelektual.
d. Tes Akhir (post test). Tes ini harus menilai tujuan khusus keterampilan, pengetahuan yang diperoleh peserta didik. Jika tes akhir ini tidak dapat dilaksanakan, maka tes secara periodik dapat dilakukan. Tes akhir dapat menilai hanya tujuan khusus akhir saja atau dengan satu atau dua sub keterampilan. Tes akhir dapat dan sering sama dengan tes awal (jika tes awal dilakukan).

6. Mengembangkan Strategi Pengajaran
Terdapat 5 komponen utama dalam strategi pengajaran berikut ini:
a. Aktivitas prapengajaran (pendahuluan). Pendidik atau pembimbing dalam pendahuluan ini perlu memberikan motivasi, menjelaskan tujuan khusus, dan mengetahui pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik.
b. Penyajian informasi. Informasi atau materi pengajaran perlu disampaikan secara berurutan, baik isi maupun contoh-contohnya.
c. Partisipasi pesera didik. Peserta didik didorong berpartisipasi dalam proses belajar dengan cara diberikan tugas atau memberi umpan balik ( mengajukan pertanyaan, memberi komentar, dan menjawab pertanyaan)
d. Testing. Dalam suatu pelajaran biasanya terdiri atas tes awal, tes kemajuan dan tes akhir. Pelaksanaan tes harus disesuaikan dengan pelajarannya.
e. Lanjutan. Terdiri atas 1) perbaikan, untuk peserta didik yang tidak dapat menjawab tes kemajuan dan 2) pengayaan, untuk peserta didik yang dapat menjawab semua tes kemajuan.

7. Mengembangkan dan Memilih Materi Pengajaran
Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi perkembangan maetri pengajaran, yakni: 1) lingkungan pengajaran, 2) tingkat penguasaan pendidik atau pembimbing, 3) materi yang tersedia, 4) ruang lingkup pengajaran, 5) perorangan atau kelompok, 6) ciri-ciri dan besar kelompok sasaran, dan 7) personal, fasilitas, dan aparat.

8. Merancang dan Melakukan Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif adalah suatu proses untuk memperoleh data yang digunakan untuk meyakonkan bahwa materi pengajaran efisien dan efektif. Evaluasi formatif dapat dilakukan dengan tiga langkah, yakni: 1) evaluasi perorangan atau evaluasi klinik, 2) evalusi kelompok kecil, 3) evaluasi lapangan.

Evaluasi Perorangan è setelah acara pengajaran disusun, pendidik memilih dua atau tiga orang peserta didik untuk memeriksa tes dan isi materi pengajaran. Setelah itu mereka mendiskusikan kelemahan dan kekuatan tes maupun isi materi pengajaran tersebut.

Evaluasi Kelompok Kecil è setelah perbaikan dengan manggunakan hasil evaluasi perorangan, pendidik menyampaikan pengajarannya dengan menggunakan materi yang telah diperbaiki dan menggunakan strategi yang telah ditetapkan kepada sekelompok peserta didik (10-20) orang. Semua kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik harus dicatat untuk perbaikan selanjutnya.
Evaluasi Lapangan è evaluasi lapangan adalah upaya pendidik atau pembimbing memperoleh data dari situasi pembelajaran itu sendiri. Data tersebut meliputi: 1) laporan tes masuk, 2) nilai tes awal dan tes akhir, 3) laporan tentang jangka waktu yang diperlukan peserta didik menyelesaikan tes dan tugas lain, 4) kebutuhan perbaikan dan pengayaan, dan 5) laporan survey tingkah laku.

9. Merevisi Materi Pengajaran
Setelah mengetahui semua data informasi normatif, langkah selanjutnya adalah menentukan bagian pengajaran mana saja yang perlu direvisi. Tabel yang paling baik untuk mengerjakan revisi materi pengajaran adalah tabel yang berisi nilai tes masuk, tes awal, dan tes akhir dari setiap peserta didik yang terlibat dalam evaluasi normatif kelompok kecil. Nilai tersebut dapat berbentuk presentase jumlah total objektif yang telah ditetapkan atau presentase nilai performansi yang dapat dibandingkan dengann nilai performansi tertinggi yang dapat dicapai.

10. Merancang dan Melakukan Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif adalah suatu proses evalusi versi final satuan acara pengajaran, pengumpulan data data untuk menentukan efisiensi dan efektivitas satuan acara pengajaran itu.
Penilaian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) persiapkan instrumen evaluasi yang akan digunakan untuk mengidentifikasi keberhasilan peserta didik, 2) catat nilai dari semua peserta didik dan simpulkan. Nilai dari semua sumber data (tes dan laporan) mengkin perlu diubah untuk dapat digabung, 3) dengan menggunakan metode identifikasi value yang telah dipilih sebelumnya, nilai (skor) diubah menjadi value (penjelasan kualitas, misalnya baik, sedang, kurang, jelek).



BAB 4
METODE PENDIDIKAN ORANG DEWASA

A. KONTINUM PROSES BELAJAR SEBAGAI DASAR METODE POD
Banyak metode yang ditetapkan dalam program pendidikan orang dewasa. Metode apapun yang dipilih, sebaiknya dipertimbangkan sebagai alat untuk mencapai tujuan akhir, yaitu agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang bermanfaat.
Metode pendidikan orang dewasa sebaiknya dipilih berdasarkan tujuan pendidikan, yaitu pada garis besarnya dapat dibagi menjadi 2jenis, yaitu: 1) membantu orang menata pengalaman masa lalu yang dimilikinya melalui cara baru, seperti konsultasi, latihan kepekaan, dan bebrapa latihan menejemen, untuk membantu individu untuk dapat lebih mudah memanfaatkan apa yang telah diketahuinya. Dan 2) memberikan pengetahuan yang lebih baik daripada pengetahuan yang sudah dimilikinya.
Posisi atau sifat pengalaman belajar dalam kontinum proses belajar dapat mempengaruhi hal hal berikut ini:
1. persiapan dan orientasi bagi proses belajar.
2. suasana dan kecepatan belajar
3. peran dan sikap pembimbing
4. peran dan sikap peserta didik.
5. metode yang diterapkan agar usaha belajar berhasil.

B. PEMILIHAN JENIS PERTEMUAN
Jenis Pertemuan
1. Intuisi (Institution)
Dalam istitusi, materi baru diberikan untuk menambah pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta. Dalam sutu institusi diharapkan akan berlangsung pemberian informasi dan instruksi, serta identifikasi masalah dan pemecahannya. Institusi adalah salah satu bentuk pendidikan orang dewasa yang palin sering digunakan. Dalam institusi seringkali dilakukan upaya untuk mengembangkan informalitas, kesempatan untuk berpartisipasi dan mengekspresikan diri. Banyak teknik yang digunakan dalam institusi ini seperti sesi buzz, permainan peran, diskusi terbuka, penyajian formal, dll.
Keterbatasan institusi yakni tujuan akhirnya sering tidak tercapai. Bahkan walaupun peserta mungkin mempunyai dedikasi pribadi yang tinggi untuk meningkatkan tindak lanjut setelah pulang. Namun tidaklah selalu dikerjakan semuanya. Dikarenakan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mengorganisasikan suatu institusi dan melihat perkembangannya. Ada beberapa perencana yang tidak mau menyisihkan waktunya untuk keperluan itu. Hal ini harus menjadi tantangan bagi tim kerja untuk menyusun setiap fase institusi dengan baik. Tidak hanya harus ada tim kerja, tetapi harus ada juga keahlian pimpinannya.
2. Konvensi
Konvensi seperti institusi, adalah kumpulan dari peserta. Bedanya adalah peserta datang dari kelompok lokal yang menrupakan organisasi orangtua baik dari tingkay kabupaten, provisi, ataupun tingkat nasional.
Salah satu utama manfaat adanya konvensi adalah memberikan peserta secara individual kesempatan melihat organisasi sebagai suatu badan penting dimana ia mengidentifikasikan dirinya. Jika konvensi dilaksanakan dengan baik, loyalitas peserta akan termotivasi , egonya akan berkurang dan dedikasinya akan menguat. Keberhasilan pelaksanaan konvensi tergantung pada pengembangan jiwa korp dan moral kelompok. Banyak aktivitas yang dilengkapi dengan motto, pameran, klise, pidato pengarahan, dsb.
Kelemahan konvensi adalah jika pelaksanaan kurang baik, maka tidak dapat memberikan motivasi kepada peserta. Ada kemungkinan manipulasi di belakang layar, dan aksi mob akan menganggu jalannya acara secara normal. Kadang-kadang peserta merasa kurang terlibat karena hal-hal yang kurang dimengerti.
3. konferensi
Konferensi adalah pertemuan dalam kelompok besar maupun kelompok kecil. Jumlah peserta dalam konferensi mungkin hanya dua orang, atau samapi 50 orang atau lebih. Biasanya jumlah peserta dalam konferensi tidak sebanyak peserta institusi. Ciri khusus konferensi yang lain adalah diikuti dengan kata sebutan yang menunjukkan tema konferensi. Sebagai contoh, konferensi supervisor, konferensi pendidikan agama,dll. Pada umumnya peserta berperan sebagai kelompok yang mengadakan konsultasi bersama terhadap masalah yang memerlukan pemikiran sangat serius dalam pertemuan formal.
4. Lokakarya (Workshop)
Lokakarya adalah pertemua orang yang bekerjasama dalam kelompok kecil, biasanya dibatasi pada masalah yang berasal dari mereka sendiri. Peran serta peserta diharapkan menghasilkan produk tertentu. Susunan acara lokakarya meliputi identifikasi masalah, pencarian dan usaha pemecahan masalah dengan menggunakan referensi dan materi latar belakang yang cukup tersedia.
Beberapa jenis teknis diskusi kelompok dapat diterapkan dalam lokakarya, oleh karena itu, informalitas diperlukan untuk mendorong partisipasi peserta. Jumlah peserta terbatas, dalam banyak hal, mereka dipanggil ke lokakarya dengan undangan khusus. Pengalaman yang terencana dengan baik dan lokakarya yang tterkendali banyak diterpkan kepada peserta. Ia membawa ke dalam serangkaian informalitas, dorongan untuk berpartisipasi, pengenalan sumber yang bermanfaat,penjelasan metode identifikasi dan pemecahan masalah, serta pengalaman tertentu mengenai cara menilai prosedur.
Dalam lokakarya, orang yang diundang terbatas. Efektifitas program lokakarya akan sangat terbatas, kecuali jika peseta dapat terus hadir mulai dari lokakarya dibuka sampai selesai. Lokakarya memerlikan perencanaan sedemikian rupa sehingga peserta tidak hanya menerima begitu saja apa yang telah diputuskan tanpa banyak berpikir, dan menjadi orang luar. Tetapi peserta dapat terlibat secara penuh dan dapat mengembangkan diri.
5. Seminar
Jenis pertemuan ini akan membawa anggota untuk dapat belajar dibawah pimpinan yang mampu dan siap untuk membantu anggota mengerti masalah riset dan mendekati orang lain. Salah satu pembatas dalam jenis pertemuan ini adalah pendeknya waktu untuk mengembangkan suatu ide atau konsep. Seminar tidak dapat digunakan secara universal karena beragamnya latar belakang orang.
6. Kursus Kilat
Kursus kilat terbatas pada bidang khusus. Istilah tersebut pada dasarnya menunjukkan proses memperoleh tambahan pelajaran dalam bidang khusus dengan kelompok khusus yang berhubungan dengan bidang tersebut dalam lingkungan hidup sehari-hari mereka. Kursus kilat bertindak sebagai kursus penyegar bagi peserta.
Kursus tersebut terbatas bagi kelompok khusus dan temanya jarang sekali mempunyai daya tarik yang universal. Sulit bagi perencana untuk mengembangkan program yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan setiap orang yang terkait. Biasanya anggota kursus memiliki latar belakang yang bervariasi. Beberpa peserta mempunyai kesan bahwa mereka tidak belajar sesuatu diluar yang mereka ketahui, sementara peserta lain mengeluh bahwa materinya sangat teknis sehingga mereka tidak dapat mengerti apa yang dikatakan pembicara.
7. Kuliah Bersambung
Kuliah bersambung adalah suatu rangkaian penyajian yang diberikan oleh dosen dengan periode waktu satu kali per hari, satu kali per minggu, atau satu kali per bulan. Dosen mungkin menggunakan audiovisual dalam penyajiannya. Para hadirin adalah mendengarkan, jadi menerima pesan-pesan dan aspirasi dari dosen.
Keterbatasan kuliah bersambung adalah dosen harus bekerja keras untuk mempersipkan materinya. Ia tidak pernah yakin dapat mencapai orang dan sering harus “belajar bekerja keras” karena pengalaman menurunnya jumlah hadirin. Hadirin dapat dengan mudah tidur dalam ketidaksadaran, yang hanya sedikit dapat “mempengaruhi pikiran” nya. Dikarenakan kuliah sambung menekankan kontinuitas jalan pikiran, mereka yang sering tidak hadir akan kehilangan kontinuitas tersebut. Kuliah bersambung ini cukup sulit untuk mendorong peserta melakukan tidakan tertentu, terbukti pertemuan yang sangat alami ini gagal menunjukkan hal tersebut.
8. Kelas Formal
Kelas formal dalam pendidikan orang dewasa biasanya mempunyai peraturan yang ketat. Pelajaran mempuyai sifat sedemikian rupa sehingga peserta yang sering absen akan kehilangan banyak pelajaran yang berguna. Berhubung kelas formal ini merupakan rangkaian pertemuan, maka instruktur harus mempunyai keahlian dalam mempertahankan minat yang tinggi dari para pesertanya. Beberapa kelas formal dalam pendidikan orang dewasa menarik minat hanya kepada mereka yang mempunyai latar belakang yang cukup untuk menguasai materi.
Antara kelas formal pendidikan orang dewasa dan kelas formal di fakultas atau disekolah menegah ada perbedaan. Pada kelas formal di fakultas dan sekolah menegah , motivasinya meningkat dengan adanya keinginan mendapatkan kredit fakultas atau sekolah menegah
9. Diskusi Terbuka
Diskusi terbuka dianggap sebagai salah satu jenis pendidikan orang dewasa yang sangat penting. Tersirat bahwa mereka yang berperan aktiv adalah orang yang cukup ahli dalahm proses kelompok untuk memanfaatkan teknik secara penuh.
Pentingnya diskusi terbuka adalah terciptanya lingkungan yang sesuai untuk meningkatkan kebebasan mengeluarkan pendapat. Jika memungkinkan, setiap peserta saling berhadapan duduknya sehingga mereka dapat saling berkomunikasi secara langsung.
Diskusi terbuka membutuhkan seorang pimpinan yang ahli untuk mengatur jalannya diskusi sehingga semua peserta mempunyai kesempatan untuk menyatakan pendapat mereka. Ia harus seorang pemberi semangat, seorang pemandu yang bermutu, dan mempunyai kemampuan menjaga kelancaran diskusi.

C. MERENCANAKAN PERTEMUAN
Tanpa memandang jenis pertemuan yang digunakan, seseorang harus mempunyai rencana untuk melaksanakan pertemuan. Hal ini berarti perencana harus mengarahkan perhatiannya kepada: 1) tahap pendahuluan untuk menghubungi orang, 2) cara menerima peserta, 3) apa yang akan terjadi didalam pertemuan, 4) cara mengevaluasi pertemuan.


D. METODE DALAM PERTEMUAN
1. Penyajian formal.
a. Ceramah atau kuliah
b. Simposium
c. Diskusi panel
d. Kolokium
2. Tenik diskusi
a. Diskusi terbuka
b. Diskusi kelompok dengan wakil pimpinan
c. Sesi buzz
d. Teknik “Phillips 66”
e. Tim pimpinan
f. Tim pendengar
g. Bermain peran
h. Skit drama
i. Curah pendapat
j. Diskusi informal
k. Debat
l. Diskusi mangkuk ikan
m. Teknik kelompok nominal
n. forum
3. Demonstrasi dan laboratorium
a. Demonstasi metode (cara)
b. Demonstrasi hasil
c. Prosedur laboratorium
4. Widyawisata (karyawisata)
5. Audiovisual
6. Komunikasi tertulis

E. PENYAJIAN FORMAL
Penyajian formal yang asli adalah adalah penyajian yang bersifat searah dari pembicara kepada peserta tanpa ada umpan balik dari peserta kepada pembicara. Masing-masing metode akan diuraikan dibawah ini:
1. Ceramah atau kuliah
Ceramah atau kuliah adalah penyajian secara lisan oleh pembicara dengan menggunakan pemikiran dan ide yang terorganisasi. Kuliah adalah cara yang tepat untuk memberikan informasi dengan menggunakan “catatan kuliah” dapat berpindah dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya secara logis. Kuliah menrik minat orang karena mudah didengar dan dibaca.
Ada beberapa kelemahan pada ceramah atau kuliah. Perencana sering kurang memperhatikan tema yang perlu diceramahkan, sebaliknya malah meminta bantuan pembicara untuk sekadar memenuhi program. Pembicara yang kurang bertanggung jawab sering memanfaatkan kenyataan ini untuk kepentingan pribadinya dam terus memenipulasi fakta.
Ceramah dan kuliah dapat memenuhi apa yang dimaksud, seperti mempermudah diterimanya suatu pesan. Hal ini dapat dibuat lebih efektif dengan menggunakan alat visualisasi, bahan cetak yang dapat diterima langsung oleh peserta.

2. Simposium
Dalam simposium disajikan banyak pandangan dari suatu sebjek utama, membantu untuk mengingkapkan semua aspek dari topik yang dibicarakan dihadapan peserta, jika masing-masing pembicara mempunyai persiapan yang matang dan tetap berpegang pada topiknya. Walaupun setiap pembicara mempunyai waktu yang pendek, mereka sering dapat mengidentifikasi maupun menggali masalah dengan tuntas. Simposium lebih sering diterima daripada ceramah.
Simposium mempunyai banyak kelemahan. Suasana mimbar pendengar menyebabkan pendengar menyebabkan pendengar cenderung bersikap pasif seperti yang sering terjadi pada ceramah formal. Anggota pembicara sering tidak saling mencek satu sama lain sebelum program dimulai sehingga menyebabkan pengulangan informasi, perbedaan pendapat, penyimpangan dari topik yang ditetapkan sehingga mengakibatkan kebingungan.
3. Diskusi panel
Kelompok kecil, biasanya sekitar 6 orang, duduk dibelakang mimbar berhadapan dengan pendengar ysng hadir dan mendiskusikan topik tertentu yang mereka kuasai disebut dikusi panel.
Diskusi panel sering disalahgunakan sehingga ada perencana program yang tidak suka dengan teknik tersebut. Pimpinan diskusi panel sering gagal untuk berpegang teguh pada topik yang telah ditetapkan. Sering anggota panel yang vokal berbicara lebih banyak walaupun pengetahuan tentang subyek yang dibicarakan terbatas. Sering juga terjadi bahwa masing-masing panelis menurut pemikirannya sendiri mengembangkan tema diskusi tanpa memikirkan koordinasi, integrasi, dan fakta yang ada.
4. Kolokium
Kolokium agak berbada dengan metode penyajian formal yang lain,yakni penampilan panelis dan partisipasi pendengar lebih banyak terjadi. Dalam kolokium, beberapa anggota peserta menghangatkan diskusi dengan manyajikan beberapa persoalan kepada sekelompok ahli yang duduk di mimbar, selanjutnnya para ahli tersebut memberikan komentar mereka.
Kolokium tepat digunakan sebagai tenik pertemuan apabila akan mempertimbangkan suatu masalah. Dalam kolokium, diharapkan panelis pendengar mengajukan atau mengidentifikasi masalah pada waktu pertemuan atau menetapakn masalah secara lengkap lebih dahulu sebelum pertemuan dan diharapakan pertanyaan dari panelis pendengar tersebut dapat membantu dalam pengarahan pemecahan masalah yang diberikan oleh panelis ahli.
Kesuksesan kolokium banyak tergantung pada efisiensi pimpinan atau moderator. Ia harus mengetahui bagaimana menggunakan secara praktis suatu teknik pertemuan. Seringkali mekanisme teknik-moderator dengan 3 atau 4 orang ahli tidak memberikan waktu yang cukup bagi bagi masing-masing panelis untuk berperan serta.

5. Variasi Penyajian Formal
Rahasia kesuksesan forum biasanya tergantung pada ketua atau moderator, yang bekerja keras untuk mendorong pendengar berpartisipasi dan ia harus memulai memberikan dorongan sebelum memperkenalkan pembicara atau anggota simposium. Setiap anggota pendengar harus menyadari secara penuh sebelum penyajian panelis bahwa ia mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan atau memberikan respons.
Jika konsep forum dibawa dalam penyajian mimbar formal, nama penyajian tersebut menjadi forum kuliah, forum simposium, atau forum panel.
BAB 5
METODE DISKUSI

A. DISKUSI KELOMPOK
Diskusi kelompok merupakan strategi belajar mengajar yang tepat untuk meningkatkan kualitas interaksi antara peserta didik. Selanjutnya ciri kelompok dinamis menurut Gulo adalah: 1) adanya interaksi antara anggota, 2) ada kepemimpinan, 3) ada tujuan yang akan dicapai, 4) ada norma yang diikuti, dan 5) melibatkan emosi.
1. Manfaat Diskusi Kelompok dalam Pendidikan Orang Dewasa
a. Diskusi memberi kesempatan kepada setiap peserta untuk menyampaikan pendapatnya, dan mendorong setiap individu untuk berpikir dan mengambil kesimpulan
b. Belajar sambil bekerja. Diskusi mendorong partisipasi peserta. Mereka yang aktif secara fisik dan mental dalam diskusi, belajar lebih banyak daripada mereka yang hanya duduk dan mendengarkan.
c. Diskusi cenderung membuat peserta lebih toleran dan berwawasan luas.
d. Diskusi mendorong seseorang untuk mendengarkan dengan baik.
e. Memberikan alat pemersatu fakta dan pendapat anggota kelompok sehingga kesimpulan dapat diambil. Sumbangan pendapat dari peserta lain dapat menambah pengetahuan kita.
f. Melalui metode diskusi pemimpin berlatih. Sesorang melakukan tugas kepemimpinan ketika menyuarakan kebutuhan dan penilaian masyarakat. Jika tidak ada pemimpin yang cakap dalam proses diskusi, akibatnya diskusi akan memakan waktu yang lama dan tidak produktif.
2. Memilih Masalah atau Isu
Pemilihan topik diskusi dapat mempengaruhi keberhasilan diskusi sehingga topik harus dipilih dengan baik. Suatu masalah atau isu yang memenuhi satndar berikut ini biasanya terbukti menjadi masalah yang baik.
a. Semua atau sebagian besar anggota kelompok sangat tertarik terhadap masalah atau isu tersebut.
b. Masalah atau isu dikenal benar oleh semua atau sebagian besar kelompok.
c. Isu atau masalah jelas, pasti, dan dimengerti oleh semua naggota kelompok.
d. Masalah atau isu mempunyai tingkat kesulitan yang dapat menumbuhkan diksusi yang berkelanjutan
e. Informasi cukup tersedia bagi anggota kelompok untuk memecahkan masalah dengan memuaskan
f. Isu atau masalah dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang logis.
g. Isu atau masalah merangsang pemikiran yang bermutu.
3. Merencanakan Diskusi Kelompok
Perencanaan yang teliti merupakan hal yang penting agar diskusi berhasil. Jika masalah atau isu yang didiskusikan sudah memenuhi kriteria, masih ada 3 faktor tambahan yang mungkin mempengaruhi keberhasilan diskusi. Yaitu:

a. Tanggung jawab pimpinan diskusi
Pimpinan dikusi bertangung jawab untuk:
1. Mendorong pengungkapan ide oleh anggota kelompok
2. Memeriksa apakah fakta yang diperlukan tersedia
3. Mengajukan pertanyaan dari waktu ke waktu untuk megarahkan diskusi
4. Membuat kesimpulan sementara tanpa memasukkan pendapat pribadi
5. Bertindak sebagai ahli yang efisien yang memperlancar jalannya diskusi tanpa menggunakan taktik yang otokratis.

b. Fungsi pimpinan diskusi
1. Mengarahkan
2. Memberi informasi
3. Memberi pendapat
4. Membuat klarifikasi
5. Mengontrol
6. Mengemukakan standar
7. Mengurangi ketegangan
8. Merangkum
9. Menjaga giliran berbicara yang merata diantara anggota kelompok dan membuat rencana diskusi sehingga diskusi berjalan dengan lancar dan sesuai tujuan.

c. Pengaturan fisik yang diperlukan
Pengaturan mimbar sangat penting untuk merancanakan produksi gambar hidup. Pengaturan gamabr hidup sama pentingnya dengan perencanaan diskusi kelompok. Ruangan paling baik bagi kelopok untuk berdiskusi adalah ruangan kecil. Sulit untuk mengembangkan rasa persatuan dan informalitas bagi kelompok kecil jika kelompok tersebut duduk berdiskusi disalah satu ujung atau sudut ruangan yang luas.

d. Partisipasi kelompok
Pimpinan diskuis harus merencanakan lebih dulu prosedur yang mendorong anggota kelompok berpartisipasi. Ia mungkin mengatur dengan cara berbicara lebih dahulu secara pribadi kepada individu kunci sebelum pertemuan.

4. Memipin Diskusi Kelompok
Jika pemimpin menjalankan tugasnya dengan baik, maka diskusi akan berjalan lancar dan sukses mencapai tujuan yang ditetapkan.
Pimpinan diskusi harus lebih banyak berbuat demi kesuksesan kelompok daripada oranglain. Tugasnya adalah membuat setiap orang berperan pada waktu yang tepat dan dengan sikap yang paling menguntung (dapat memberikan hasil).
Pimpinan diskusi yang baik tidak dilahirkan. Mereka dibentuk. Mereka mungkin mewarisi sifat-sifat tertentu yang memengaruhi kepemimpinan yang efektif. Keterampilan dalam memimpin kelompok adalah hasil dari latihan dan evaluasi diri yang kontinu.

5. Kualitas Pribadi Pimpinan Diskusi
Kemampuan berbicara. Pimpinan diskusi harus mampu mengekspresikan dirinya secara jelas dan tepat. Waktu berbicara ia harus menggunakan bahasa yang baik dan suaranya harus cukup keras untuk dapat didengar oleh semua peserta. Pembendaharaan katanya harus banyak dan dimengerti oleh semua anggota kelompok.
Kemampuan berbicara dengan sikap yang informal, ramah dan bijaksana merupakan aset pimpinan diskusi yang berharga. Kemampuan ini bukan kemampuan bawaan, tetapi kemampuan yang dikembangkan dengan latihan.
Kemampuan berpikir. Pimpinan diskusi harus berpikir lebih cepat daripada anggota kelompok lain. Ia harus mengimbangi pendapat-pendapat anggota kelompok yang berkembang dengan cepat. Tugas pimpinan diskusi menganalisi pendapat-pendapat tersebut dengan menghubungkannya dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Temperamen. Orang yang mudah gugup dengan suara melengking atau orang yang kurang rasa humornya, biasanya tidak dapat memimpin diksusi dengan baik. Pimpiana harus mempunyai wajah yang cerah dan sifat yang bersemangat, serta mempunyai tempramen yang stabil.
Sabar. Anggota kelompok mungkin tidak diberi kesempatan yang cukup untuk menemukan fakta yang diperluka dan membuat kesimpulan. Pimpinan yang cakap mempelajari kelompoknya. Ia akan memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk memikirkan diri mereka dan mendiskusikan isu sebelum menggerakkan kelompok atau memberikan sumbangannya pada diskusi. Pimpinan seyogyanya tidak berbicara terlalu banyak, namun harus memberikan semangat anggota kelompok untuk berbicara banyak. Kadang-kadang diamnya pimpinan adalah emas.
Tidak memihak. Metode yang cepat memperlemah diskusi adalah menunjukkan favoritisme, memberikan hak istimewa kepada beberapa individu atau mengabaikan kehadiran atau beberapa anggota kelompok yang lain. Sementara tidak mungkin bagi pimpinan diskusi untuk berlaku adil secara sempurna. Ia harus dapat menyembunyikan ketidakadilan yang mungkin terjadi.

6. Tahapan Pemecahan Masalah
Diskusi yang baik adalah proses pemecahan masalah yang terdiri atas beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Anggota kelompok menjadi sadar terhadap adanya kesulitan atau masalah. Tidak ada usaha yang dapat dilakukan untuk menemukan pemecahan masalah sebelum masalahnya dirumuskan dengan jelas dan ruang lingkupnya dibatasi, dalam waktu yang tersedia.
b. Anggota secar individu mencari kesimpulan atau dugaan sebagai pemecahan masalah sementara. Dugaan yang dikemukakan biasanya ada perbedaan pendapat.
c. Anggota kelompok mencoba mengingat fakta atau pengalaman yang dapat mendukung atau memperlemah pemecahan masalah tentatif yang telah dikemukakan.
d. Apabila pemecahan ternyata bertentangan dengan fakta-fakta yang ada, pemecahan tersebut harus diperbaiki atau pengecekan dilanjutkan terhadap pemecahan masalah yang lain sampai ada salah satu pemecahan yang sesuai dengan semua informasi yang tersedia. Makin banyak individu yang berpartisipasi, makin baik diskusinya.
e. Tahap terkhir dalam prosos pemecahan masalah adalah mengecek kesimpulan yang telah diperbaiki.

7. Tahapan dalam Memimpin Diskusi Kelompok
Mempertahankan minat dan memperkenalkan masalah atau isu.
a. Perkenalkan masalah dengsn menggunakan pendekatan yang menarik
b. Ambil masalah atau isu dari topik utama dengan cara yang efektif
c. Penulisan masalah atau isu dengan jelas dipapan tulis agar jelas
d. Minta beberapa anggota kelompok untuk menjawab atau menyimpulkan tanpa minta alasannya.
e. Pastikan bahwa jawaban tersebut dimengerti dengan jelas oleh semua kelompok
Memberi semangat semua anggota kelompok untuk berpartisipasi
a. Mengajukan beberapa pertanyaan untuk memancing pendapat-pendapat yang akan keluar dari mulut anggota kelompok
b. Beri dukungan kepada anggota kelompok untuk saling mengajukan pertanyaan
c. Cegah orang yang cenderung nigin memonopoli diskusi
d. Pertahankan diskusi pada masalah atau isu yang telah ditetapkan. Dengarka semua pendapat, tetapi tekankan hal-hal yang penting dan bimbing diskusi sehingga terhindar dari hal yang tidak penting
Membuat kesimpulan sementara
a. Kesimpulan sementara tentang hal-hal penting akan membantu mengarahkan diskusi dan menekankan hal-hal yang haru diingat oleh anggota kelompok. Kesimpulan ini sebaiknya dituliskan dipapan tulis.
b. Pimpinan harus mengesampingkan pendapat atau prasangka pribadi dari diskusi.
c. Pimpinan harus menunjukkan bahwa ua ungin bekerjasama dengan kelompok dalam menemukan pemecahan masalah yang ada.
Menutup diskusi dengan generalisasi, kesimpulan, dan penerapan
a. Tutup diskusi atas setiap masalah atau isu dengan ringkasan prinsip atau kesimpulan tindakan yang diinginkan.
b. Diskusikan penerapan prinsip untuk memecahkan masalah lain yang sama
c. Usahakan agar setiap anggota kelompok sampai pada rencana tindakan individual
d. Minta perhatian terhadap masalah atau isu terkait yang belum terpecahkan untuk dipertimbangkan dimasa mendatang.

B. TEKNIK DISKUSI KHUSUS
Sejumlah teknik telah disediakan untuk mendorong partisipasi dan meningkatkan efektifitas diskusi kelompok. Setiap teknik telah dikembangkan dengan menganalisisnsituasi dan menggunakan secara efektif metode tambahan yang paling sesuai dengan situasi. Beberapa metode membantu dalam mengatur diskusi, yang lainnya cenderung meningkatkan partisipasi. Maksud menggunakan beberapa metode adalah membangkitkan semangat diskusi. Berikut ini akan dijelaskan sejumlah metode tambahan.
1. DUA KELOMPOK (CO-LEADER) DALAM DISKUSI KELOMPOK
Ada beberapa keuntungan dari dikusi yang menggunakan dua pimpinan ini. Penggunaan dua pimpinan dapat memperlancar diskusi dan mempermudah dalam mencakup keseluruhan subjek. Kedua pimpinan dapat mengajukan pertanyaan sementara pimpinan yang satu mengajukan pertanyaan untuk mengarahkan diskusi menuju tujuan yang telah ditetapkan.
Sistem dua kepemimpinan bekerja dengan baik dalam kelompok kurang dari 20 atau 30 orang. Sistem ini kurang efektif untuk kelompok yang besar.
2. KELOMPOK HUDDLE
Praktik yang paling umum dalam menguunakan sistem huddle adalah ketika pemimpin memperkenalkan masalah atau isu, menjelaskan jika perlu, kemudian memotivasi kelompok untuk memecahkan masalah tersebut. Jika kelompok termotivasi, mereka akan membahas masalah itu.
Selama periode huddle, anggota kelompok bertukar pengalaman, berbagi ide, mengecek permasalahan tentatif dan akhirnya sepakat terhadap pemecahan tentatif tersebut.
Apabila menggunakan pembatasan waktu, atau apabila tampak semua kelompok huddle sudah meyelesaikan diskusinya. Pimpinan dapat memanggil kelompok asal dan meminta juru bicara kelompok huddle melaporkan hasil dikusinya. Setelah laporan singkat setiap kelompok selesai disampaikan, biasanya pimpinan memimpin diskusi kelompok besar untuk menyimpulkan prinsip-prinsip yang telah disampaikan satu per satu dan menyusun rencana kegiatan. Kelompok huddle ini dapat disamakan dengan kelompok syndicate dalam hal keduanya merupakan kelompok kecil, bagian dari kelompok besar.
3. KELOMPOK BUZZ
Teknik kelompok buzz sangat mirip dengan metode huddle. Versi pertama , teknik yang paling sering digunakan adalah membagi kelompok asal menjadi kelompok buzz yang terdiri atas 10 sampai 15 orang. Biasanya sesi buzz memerlukan waktu 10-20 menit tergantung pada topik yang dibicarakan.
Penggunaan kelompok buzz memerlukan pengaturan tempat duduk yang lebih lengkap daripada kelompok huddle. Setiap kelompok buzz sebaiknya duduk dalam posisi melingkar.
4. TEKNIK PHILLIPS 66
Teknik diskusi 66 yang dikembangkan oleh J. Donald Phillips adalah salah satu variasi dari sistem huddle dan diterapkan untuk situasi kelompok yang tidak menentu ketika partisipasi yang demokratis diperlukan.
Dalam menggunakan sistem ini kelompok besra diminta untuk membentuk kelompok kecil terdiri dari 6 orang dengan sedikit mungkin memindahkan tempat duduk. Apabila pengaturan fisik dimungkinkan, kelompok lebih baik dibagi dengan metode lain. Dengan membagi jumlah total yang hadir menjadi enam, dapat ditentukan jumlah kelompok kecil yang diperlukan. Cara ini memutuskan hubungan psikologis yang telah terjalin sebelumnya yang dapat memengaruhi objektivitas seseorang dalam berdiskusi.
Teknik Phillips 66 didesain untuk mendapatkan setumpuk ide, saran, sikap atau rekomendasi secara tepat. Ini dapat digunakan sebagai penarik minat pada pembukaan pertemuan. Tenik ini tidak dimaksudkan untuk menjadi keseluruhan pertemuan.
5. TIM KEPEMIMPINAN
Penggunaan tim kepemimpinan 4 orang dalam diskusi kelompok terbukti lebih efektif daripada menggunakan seorang pimpinan diskusi. Empat orang dapat berbuat lebih banyak daripada seorang. Khususnya jika mereka dilatih dalam bidang tanggung jawab.
Dalam teknik ini tidak harus selalu menggunakan tim kepemimpinan 4 orang. Tim bisa terdiri dari 2 orang, pimpinan diskusi dan nara sumber, pimpinan diskusi dan notulen, atau pimpinan diskusi dan pengamat kelompok. Pimpinan diskusi dibantu oleh notulen dan narasumber adalah contoh lain kepemimpinan tiga orang yang efektif.
6. TIM PENDENGAR
Setiap anggota dari tim pendengar membuat catatan yang ebrisi ide-ide penting yang disampaikan oleh pembicara. Ia mengidentifikasi isu, masalah, pertanyaan, dan pendapat yang dikembangkan oleh peserta.
Anggota tim pendengar harus dipilih secara hati-hati dan terdiri atas orang-orang yang menguasai subyek yang dibahas dan tidak bias. Mereka harus pandai dan tajam dalam menginterpretasi inti penyajian dalam diskusi.
7. PERMAINAN PERAN
Permainan peran merupakan alat baru dalam pendidikan orang dewasa. Penggunaan teknik permainan peran yang pertama dalam pendidikan orang dewas ini dilkukan oleh ahli psikologi dalam tahun1900-an untuk membantu pasien dalam menyembuhkan kesehatan mental mereka. Proses ini dikenal dengan psikodrama.
Peranan utama dalam psikodrama adalah masalah-masalah individu khusus. Peran yang dimainkan oleh individu sifatnya pribadi. Psikodrama berkaitan dengan interaksi antara individu dan individu lain atau individu dan kelompok. Dua orang atau lebih terlibat dan mereka memainkan peran berhubungan dengan masalah umum dari mayoritas anggota kelompok.
Keuntungan permainan peran:
è Suatu metode baru
è Membuat lebih banyak peserta yang aktif daripada teknik dikusi yang alin
è Dapat membawa kehadapan kelompok contoh perilaku dan hubungan manusia yang tidak mudah disajikan dengan menggunakan metode tradisonal
è Mengenalakn situasi kepada pemaindan pengamat dengan pengaruh drama
è Membawa kelompok dari pengalaman intelektual ke pengalaman emosional
è Dapat meningkatkan minat terhadap masalah
è Dapat membantu menyelesaikan masalah
è Memberi jalan untuk menyajikan beberapa pemecahan masalah kepada kelompok.
Bahaya dalam permainan peran:
è Permainan peran tidak selalu merupakan metode yang cocok apabila digunakan pada situasi yang tidak tepat
è Permainan peran memerluka banyak waktu.
è Permainan peran dapat menjadi sangat tidak efektif apabila dianggap sebagai tujuan akhir dari metode untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
è Permainan peran yang efektif biasanya hanya berlangsung sebentar. Metode menjadi tidak efektif jika digunakan terlalu lama.
è Kadang-kadang peran yang dimainkan diatas atau dibawah tingkat pengertian dan kematangan kelompok.
è Permainan peran tidak efektif apabila hanya ada satu pemecahan masalah saj
è Permainan peran sangat berbahaya apabila dalam penggunaannya membingungkan beberapa anggota kelompok.
8. CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING)
Curah pendapat adalah salah satu bentuk berpikir kreatif sehingga pertimbangan memberikan jalan untuk berinisitif kreatif. Peserta didorong untuk mencurahkan ide yang timbul dari pikirannya dalam jangka waktu tertentu berkenaan dengan berbagai masalah, dan tidak diminta untuk menilainya selam curah pendapat berlangsung. Penilaian akan dilakukan pada periode berikutnya dimana semua ide dipilih, dievaluasi, dan mungkin diterapkan.
Selain harus diperhatikan hasilnya juga harus diperhatikan hasilnya, juga harus diperhatikan prosesnya. Aturan dasar harus dipahami oleh peserta.
Aturan dasar tersebut antara lain:
è Penilaian ide-ide masak harus diterima terlebih dahulu
è Setiap orang harus didorong untuk bebas berpendapat walaupun mungkin idenya masih liar.
è Diperbolehkan membonceng ide orang lain, khususnya jika ide tersebut dapat mendorong kreativitas proses berpikir kelompok.
è Mungkin kurang dari 10% ide yang akan digunakan dalam analisis akhir
è Curah pendapat paling efektif dalam kelompok yang kecil, tidak lebih dari 12-15 orang
è Pembatasan waktu tidak lebih dari satu jam adalah yang paling efektif bagi kelompok.
è Dalam mengevaluasi ide, ide yang tidak bermanfaat harus dihilangkan.
9. DISKUSI INFORMAL
Diskusi informal dapat dilaksanakan pada pertemuan bulanan warga desa. Pertemuan informal ini tidak mempunyai pemimpin yang profesional. Idenya adalah agar warga desa yang merasa bertanggung jawab dapat bersama-sama memikirkan masalah-masalah umum yang mereka hadapi.
Metode ini dapat berhasil apabila dilakukan sebagaimana mestinya, Baik pada kegiatan desa maupun kota yang memperoleh bantuan pemerintah, yakni penyulih tidak hanya membantu masyarakat meningkatkan tingkat kemelekan aksara, tetapi membantu meningkatkan kesehatan, sanitasi, dan keluarga berencana.
Diskusi informal ini dapat dilaksanakan ditempat-tempat yang informal seperti warung, sawah, dll.
10. DEBAT
Debat biasanya dimaksudkan untuk adu pendapat antar individu atau kelompok yang berbeda pendapat, tidak dimaksudkan untuk memperoleh kesepakatan seperti diskusi pada umumnya.
Walaupun demikian, debat dapat menggali pendapat/pandangan/visi dan misi yang lebih mendalam dibandingkan dengan brainstorming yang sering dilaksanakan kurang serius.
11. DISKUSI MANGKUK IKAN (FISHBOWL DISCUSSION)
Dinamakan diskusi “mangkuk ikan” karena orang yang mengamati jalannya diskusi seolah olah melihat “ikan dalam mangkuk”. Jadi diskusi ini terdiri atas dua kelompok . manfaat diskusi “mangkuk ikan “ ini adalah dapat mendorong siswa berpikir kritis dan memberikan pengalaman kepada siswa bagaimana berdiskusi dengan baik, bagaiman berkomunikasi dengan baik, bagaiman menyatakan pendapat dengan baik, jelas, bagaimana memberikan contoh dengan tepat, dan bagaimana menanggapi masalah dengan kritis dan evaluatif.


BAB 6
KUNJUNGAN LAPANGAN DAN KARYAWISATA

A. KEUNTUNGAN DAN KELEMAHAN KUNJUNGAN LAPANGAN DAN KARYAWISATA
Berikut ini bebrapa keuntungan kunjungan lapangan dan karyawisata sebagai media pendidikan orang dewasa.
1. Kunjungan lapangan dan karyawisata memberi kesempatan untuk mengumpulkan informasi baru
2. Benda-benda dapat diamati dalam bentuk aslinya
3. Tiga dimensi, warna alami, dan gerakan-gerakan dapat diamati
4. Minat dan ketelitian pengamatan anggota dapat ditumbuhkan
5. Kesempatan dapat diberikan kepada peserta untuk belajar sambil bekerja
6. Prosedur dapat diamati dan dialami
7. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk menggabungkan sekolah atau kegiatan organisasi dengan kehidupan masyarakat.
8. Elemen-elemen konkret dan realistis yang tidak didapatkan dikelas atau tempat pertemuan biasa, mungkin dapat diperoleh.
9. Memberikan pengertian nyata tentang sifat masalah-masalah orang dewasa.
10. Memungkinkan terjadinya transfer pengertian ide-ide sulit dari pimpinan kepada peserta.
11. Apabila dilaksanakan dengan baik, kunjungan dan karyawisata merupakan kegiatan kerjasama yang mengembangkan kesatuan tujuan diantara peserta.
12. Kunjungan dan karyawisata dapat berperan baik untuk mendorong partisipasi anggota dalam diskusi.

Kunjungan dan karyawisata mempunyai kelemahan, antara lain:
1. Tidak cocok untuk beberapa bidang permasalahan
2. Mahal (waktu, uang,dan tenaga), jika kunjungannya jauh
3. Memerlukan banyak persiapan
4. Melibatkan orang lain
B. MERENCANAKAN KUNJUNGAN LAPANGAN DAN KARYAWISATA
Keberhasilan kunjungan lapangan dan karyawisata sangat tergantung pada seberapa baiknya perencanaan dibuat. Berikut ini beberapa saran yang dapat membantu merencanakan kunjungan lapangan dan karyawisata yang efektif.
1. Tujuan / maksud
Tujuan / maksud kunjungan lapangan dan karyawisata seyogyanya dipertimbangkan dengan hati-hati dan dibatasi, yaitu tujuan yang sangat penting saja. Dalam hal ini pengelola kunjungan sering mencoba memadukan terlalu banyak kegiatan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
2. Keikutsertaan dalam Perencanaan
Peserta diharapkan ikut serta dalam merencanakan kunjungan lapangan dan karyawisata. Keberhasilan dalam kegiatan ini sangat tergantung dari kesadaran peserta tentang maksud dan prosedur yang harus diikuti. Dengan kebersamaan peserta dalam perecanaan ini mereka akan lebih mengahayati maksud dan prosedur, dan biasanya hal ini lebih meningkatkan peran serta mereka dalam menyukseskan kegiatan.
3. Pemilihan Tempat Tujuan
Faktor yang berhubungan dengan pendidikan harus lebih mendapatkan perhatian. Apakah kunjungan akan memberikan pengamatan dan pengalaman yang diinginkan? Apakah orang yang dikunjungi mampu dan mau melakukan perannya untuk menyukseskan kunjungan? Apakah ada ancaman keselamatan dan kesehatan?
4. Pengaturan dengan Melibatkan Pihak Organisasi yang Akan Dikunjungi
Orang dan wakil organisasi yang akan dikunjungi harus dilibatkan dalam perencanaan. Mungkin perlu mengunjungi industri/organisasi beberapa kali untuk membuat pengaturan sesuai dengan yang dikehendaki. Banyak waktu dan biaya perjalanan akan terbuang sia-sia jika kunjungan dilaksanakan ketempat tujuan dimana orang/ organisasi yang dikunjungi kurang mengetahui atau kurang siap sehubungan dengan tanggung jawabnya.
5. Pengaturan Waktu
Dalam merencanakan karyawisata, perusahaan bis akan menggunakan bis yang mempunyai rute perjalanan yang diminta dan akan memperhitungkan waktu yang diperlukan dalam setiap fase perjalanan. Mereka harus memahami jalan raya, rambu-rambu lalu lintas dan tempat-tempat yang harus disinggahi termasuk tempat parkirnya.
6. Transportasi
Alat transportasi untuk perjalanan yang jauh bisa menggunakan carteran bus, pesawat terbang, atau kereta api. Angkutan umum bertanggung jawab dalam hal kecelakaan. Perintah khusus harus diberikan kepada sopir, atau disepakati oleh sopir manyangku kecepatan, jarak antara mobil dalam iring-iringan, menyelip, serta tanda berhenti atau belok. Jika menggunaka bus, maka peserta diminta patuh pada kebijakan keseslamatan perjalanan untuk beberapa hari selama perjalanan.
7. Bahan dan Perlengkapan
Bahan dan perlengakapan seyogyangya tersedia ditempat tujuan, atau peserta membawanya sendiri-sendiri. Banyak waktu terbuang jika perlengkapan atau bahan tidak tersedia pada saat diperlukan.
8. Pembentukan Kepanitiaan
Perlu diambil suatu kebijakan yang mendorong peserta ikut bertanggung jawab, baik sebagai individu maupun sebagai anggota panitia. Sementara tanggung jawab dapat diwakilkan kepada ketua ataupun guru pembimbing. Hal yang epnting dalam kepanitiaan adalah adanya rincian tugas yang jelas bagi setiap anggota panitia.

C. MELAKSANAKAN KUNJUNGAN LAPANGAN ATAU KARYAWISATA
1. Pengenalan
Dalam pengenalan ini biasanya memperkenalkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan/ oragnisasi yang akan dikunjungi, dan menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan pengamatan dan demonstrasi yang akan diikuti.
2. Menjaga Minat Kelompok
Apabila kelompok peserta kunjungan terlalu banyak dan tidak tersedia sistem pengeras suara akan lebih baik jika kelompok dibagi menjadi kelompok kecil yang terdiri dari delapan sampai dua belas orang dengan seorang ketua dari setiap kelompoknya. Pimpinan kunjungan atau karyawisata sebaiknya selalu berada dekat dengan kelompoknya sehingga ia selalu dapat didengar.
3. Mempertahankan Partisipasi
Anggota kelompok sebaiknya diberi motivasi untuk mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan objek atau kegiatan yang sednag diamati. Pertanyaan dapat dirumuskan lebih dahulu sebagai bagian dari perencanaan atau persiapan kunjungan dan karyawisata. Jika mungkin, menjaga peserta agar selalu dalam keadaan sibuk dan mendorongnya untuk mencoba apa yang diperagakan dan mencatatnya.
4. Pengaturan Untuk Kenyamanan Fisik Peserta
Kunjungan dan karyawisata seharusnya dijadwalkan sedemikian rupa sehingga peserta terhindar dari rasa kurabg nyaman karena panas, hujan, dan dingin. Kunjungan ke lahan pertanian, kebun, dan konstuksi sebaiknya dijadwalkan ketika tanah cukup kering.
Tempat duduk sebaiknya disediakan, terutama jika kelompok berada agak lam disuatu tempat. Pimpinan kelompok tidak seharusnya mencoba mengadakan diskusi kelompok ditempat angin dingin bertiup atau ditempat yang panas.
5. Mengakhiri Kunjungan Lapangan dan Karyawisata
Kegiatan seyogyanya diakhiri sesegera mungkin setelah maksud kunjungan tercapai. Hal ini perlu diperhatikan untuk menghindari waktu yang terbuang percuma dan menghindari kegagalan mencapai tujuan yang telah disepakati. Guru atau pimpinan sebaiknya memerhartikan waktu dengan cermat dan mengalokasikan waktu untuk membuat kesimpulan dari hal-hal penting yang telah diamati. Dan memberi kesempatan anggota kelompok untuk mengucapkan terima kasih kepada pemandu atau tuan rumah.
6. Tindak Lanjut dan Evaluasi
Evaluasi kunjungan lapangan atau karyawisata sebaiknya dilakukan oleh pimpinan atau pembimbing orang dewasa terhadap 1) tujuan yang telah disepakati, 2) minat yang telah diperlihatkan oleh peserta, 3) jumlah dan jenis pertanyaan yang diajukan, 4) sikap dan respons peserta, 5) tingkat keinginan peserta menindaklanjuti apa yang sudah diamati.
Untuk mengungkapkan hasil yang diperoleh dari kunjungan lapangan dan karyawisata, sebaiknya para peserta didik diminta untuk menceritakan apa saja yang disapat selama kunjungan lapangan dan karyawisata itu, dan membandingkannya dengan keinginan dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.




BAB 7
METODE DEMONSTRASI

A. KEUNTUNGAN DAN KETERBATASAN METODE DEMOSTRASI
1. Keuntungan Metode Demonstrasi
a. Demostrasi menarik dan menahan perhatian
b. Demonstrasi menghadirkan subjek dengan cara yang mudah dipahami
c. Demonstrasi meyakinkan hal-hal yang meragukan apakah dapat atau tidak dapat dikerjakan.
d. Metode demonstrasi menunjukkan pelaksanaan ilmu pengetahuan dengan contoh
e. Metode demonstrasi adalah objektif dan nyata
f. Demonstrasi mempercepat penyerapan langsung dari sumbernya
g. Demonstrasi membantu mengembangkan kepemimpinan lokal
h. Metode demonstrasi memberikan bukti bagi praktik yang dianjurkan.
2. Keterbatasan Metode Demonstrasi
a. Demonstrasi yang baik tidak mudah dilaksanakan. Keterampilan yang memadai diperlukan untuk melaksanakan demonstrasi yang baik.
b. Metode demonstrasi terbatas hanya untuk jenis pengajaran tertentu
c. Demonstrasi hasil memerlukan waktu yang banyak dan agak mahal.
d. Demonstrasi memerlukan banyak persiapan awal
e. Demonstrasi menimbulkan iri, misalnya bagi petani yang tidak menjadi operator
f. Demostrasi dapat terpengaruh oleh cuaca
g. Demonstrasi dapat mengurangi kepercayaan bila tidak berhasil

B. JENIS METODE DEMONSTRASI
1. Metode Demonstrasi Cara
Demonstrasi cara menunjukkan bagaimana mengerjakan sesuatu. Hal ini termasuk bahan-bahan yang digunakan dalam pekerjaan yang sedang diajarkan, memperlihatkan apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya, serta menjelaskan setiap langkah pengerjaannya. Metode demonstrasi cara biasanya dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat dan tidak memerlukan banyak biaya.
2. Metode Demonstrasi Hasil
Demonstrasi hasil dimaksudkan untuk menunjukkan hasil dari beberapa praktik dengan menggunakan bukti-bukti yang dapat dilihat, didiengar, dan dirasakan. Iklan komersial di televisi sering didasarkan pada metode demonstrasi hasil. Demonstrasi hasil memerlukan prosedur produksi, biaya operasi, waktu dan tenaga kerja yang ekonomis dan kualitas produk. Demonstrasi hasil memerlukan waktu yang lama, biaya dan cara baru dibanding dengan cara biasa yang dilakukan petani.

C. LANGKAH-LANGKAH METODE DEMOSTRASI CARA
1. Merencanakan Demostrasi Cara
a. Tentukan masalah yang akan dipecahkan. Pusat demonstrasi harus pada pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat setempat. Masalah dapat diidentifikasi melalui pengamatan dan pengetahuan tentang kondisi masyarakat setempat.
b. Tentukan keterampilan yang akan diajarkan. Ketentuan ini harus memenuhi kriteria
c. Kumpulkan informasi mengenao keterampilan tersebut dan pelajari secara detail untuk dapat diajarkan.
d. Libatkan sasaran dalam perencanaan dan pelaksanaan demonstrasi dengan mencari bantuan orang.
e. Rencanakan langkah demonstrsi, termasuk apa yang akan dikerjakan dan bagian-bagian kunci yang akan ditekankan dalam setiap langkah.
2. Melakukan Demonstrasi Cara
a. Atur tempat pengamat sedemikian rupa sehingga mereka dapat melihat demonstrasi dengan baik.
b. Demonstrasikan setiap langkah dengan perlahan-lahan dan hati-hati
c. Lengkapi demonstrasi dengan ilustrasi dan penjelasan
d. Ajukan pertanyaan selama demonstrasi
e. Beri pengamat dorongan untuk mengajukan pertanyaan. Jelaskan setiap pertanyaan sebelum melanjutkan ke hal lain.
f. Beri waktu untuk berdiskusi
g. Beri dorongan pengamat untuk membantu demonstrasi
h. Lengkapi demontrasi dengan literatur, model, dan bahan visualisasi
i. Selesaiakn setiap langkah sebelum ke langkah lain
j. Jelaskan mengapa, bagaimana, dan kapan langkah tersebut diambil
k. Tekankan bagian kunci dan tuliskan di papan tulis
l. Jelaskan bahaya yang mungkin terjadi dalam melaksanakan proses. Tekankan keselamatan kerjanya
m. Simpulkan apa yang telah dikerjakan, atau minta pengamat untuk menyimpulkan
n. Jelaskan setiap pertanyaan tentang langkah-langkah dalam proses yang sedang dijalankan.
3. Menganalisis Hasil
a. Pastikan pengamat atau wakil kelompok telah megerjakan tugasnya
b. Minta mereka mengerjakan proses satu langkah pada satu waktu
c. Jelaskan berbagai pertanyaan yang muncul
d. Jika perlu, beri bimbingan secara individual
e. Ajukan pertanyaan untuk lebih memperjelas setiap hal yang beleum benar-benar dimengerti
f. Bantu anggota kelompok dalam membuat perenacanaan dan menyelesaikan suatu proses sesuai dengan apa yang diperlukan
g. Evaluasi dengan seksama, tunjukkan bila terdapat kelebihan dan kelemahan
h. Kunjungi sasaran yang menunjukkan minat besar terhdap demonstrasi.




BAB 8
METODE PELATIHAN

Bab ini telah membahas pelatihan kepekaan, pelatihan kepemimpinan, pelatihan kerja, pelatihan partisipatif, dan rancangan pelatihan, khususnya mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pelatihan, prosedur rancangan pelatihan dan pengaturan ruangan pelatihan. Dalam pelatihan kepekaan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni kelompok-T, persiapan, manfaat, dan peringatan bagi perencana pelatihan kepekaan. Sementara itu, hal yang perlu diperhatikan dalam pelatihan kepemimpinan adalah penentuan tujuan pelatihan yang tepat. Selanjutnya hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelatihan kerja adalah definisi, asumsi, dan rasional dasar, desain pelatihan, serta evaluasi.
Ada lima pertanyaan yang perlu dijawab dalam perencanaan pelatihan: 1) siapa yang akan dilatih?, 2) apa yang akan mereka pelajari?, 3) siapa yang menyampaikan pelajaran?, 4) dengan cara bagaimana mereka dilatih?, 5) bagaiman hasil pelatihan akan dievaluasi?.
Disamping itu, terdapat enam langkah dalam perencanaan pelatihan yaitu 1) menentuka kebutuhan, 2) menentukan sasaran, 3) merencanakan sumber, 4) mengenal hambatan, 5) menetukan alternatif, 6) melakukan seleksi.
Dalam pelaksanaan pelatihan, disamping materi peltihan dan pembimbing, hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah pengaturan ruangan, antara lain: 1) ruangan untuk diskusi panel, 2) ruangan khusus untuk diskusi kelompok kecil, 3) penerangan dan stop konttak untuk menggunakan alat-alat bantu, 4) ventilasi, 5) kebersihan ruangan, 6) ketenangan, 7) toipet untuk peserta, dan 8) kursi yang semuanya harus tersedia dengan cukup.




BAB 9
ALAT BANTU AUDIOVISUAL PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Alat bantu audiovisual yang telah dibahas dalam bagian ini adalah posisi alat bantu audiovisual dalam pengajaran, prinsip penggunaan alat bantu audiovisual, film, slide, filmstrip, tape recorder, televisi, videotape, overhead projektor, LCD projection panel, papan tulis, chart, peta, papan panel, pameran dan benda.
Posisi alat bantu audiovisual dalam pengaran adalah sebagai alat bantu untuk menjelaskan materi pelajaran atau konsep yang sulit dimengerti tanpa ilustrasi visual.
Ada beberapa kesalahan persepsi terhadap alat bantu audiovisual. Oleh karena itu, untuk meluruskan kesalahn persepsi tersebut perlu diperhatikan hal-hal berikut: 1) alat bantu audivisual bukan suatu bentuk pendidikan tersendiri, 2) alat bantu audiovisual bukan hanya gambar hidup saja, 3) tujuan utama alat bantu audiovisual, sejauh dikaitkan dengan pendidikan, bukan untuk hiburan, 4) alat batu audiovisual bukan sesuatu yang baru, 5) alat bantu audiovisual bukan suatu obat mujarab untuk seluruh hambatan dalam pengajaran.
Manfaat alat bantu audiovisual antara lain:
1. Membantu memberikan konsep pertama atau kesan yang benar
2. Mendorong minat
3. Meningkatkan pengertian yang lebih baik
4. Melengkapi sumber belajar yang lain
5. Menambah variasi metode pengajaran
6. Meningkatkan/memacu keingintahuan intelektual
7. Cenderung mengurangi ucapan dan pengulangan kata yang tidak perlu
8. Membuat ingatan terhadap pelajaran lebih lama
9. Dapat memberikan konsep baru dari sesuatu diluar pengalaman biasa.
Ada beberapa saran yang dapat digunakan untuk menggunakan alat bantu audiovisual antara lain:
1. Bahan yang disajikan dengan alat bantu audiovisual harus mengarah langsung kemasalah atau proyek yang sedang dibicarakan oleh kelompok.
2. Bahan seyogyanya hanya disajikan pada waktu yang tepat sehingga tidak menyebabkan terputusnya kelangsungan berpikir
3. Pimpinan atau seseorang yang ada dalam kelompok sebaiknya mengetahui bagaimana menjalankan alat bantu dan mempunyai segala sesuatunya dalam keadaan siap dan tersusun rapi.
4. Alat bantu sebaiknya mengajarkan sesuatu dan tidak sekadar menayangkan sesuatu.
5. Partisipasi pelajar sangat diharapkan dalam situasi yang memungkinkan alat bantu audiovisual digunakan
6. Rencana mutlak diperlukan untuk membuat bahan yang disajikan dengan alat bantu lebih efektif.
7. Beberapa alat bantu sebaiknya digunakan
8. Alat bantu audiovisual sebaiknya digunakan secara hati-hati dan disimpan dengan baik.




BAB 10
KOMUNIKASI TERTULIS DALAM PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Komunikasi yang tertulis dalam bagian ini adalah laporan berkala dan surat edaran, berita dan buletin, leaflet, folder dan pamflet.
Laporan berkala adalah laporan yang dikirim secara pribadi kepada orang banyak. Inilah cara penulis berkomunikasi dengan orang banyak. Jika menginginkan laporan sebagai laporan yang efektif maka laporan itu harus tepat, lengkap, akurat, mudah, dan dapat dibaca.
Surat edaran sifat pribadinya tidak sama seperti laporan berkala. Surat edaran memfokuskan suatu peristiwa, kejadian, atau keadaan lingkungan. Surat edaran digunakan untuk memperkuat dan memberi dorongan terhadap pelaksanaan pertemuan, demonstrasi, hari lapangan, atau kegiatan pendidikan orang dewasa lainnya. Manfaar dan kelemahannya sebanding dengan laporan berkala.
Sebagai alat penghubung masyarakat, berita mempunyai nilai yang tinggi, terutama jika nama, foto, dan peristiwa dicantumakn. Biasanya, surat kabar dapat mencapai berbagai kalangan.
Dapat diperkirakan bahwa 85% orang dewasa membacanya. Beberapa studi menunjukkan bahwa pengaruh berita melalui surat kabar terhadap masyarakat sangat tinggi. Oleh karen itu, berita menempati prioritas tinggi dalam daftar rencana media komunikasi tertulis pendidikan orang dewasa.
Buletin, leaflet, folder atau pamflet adalah informasi tertulis mengenai subjek khusus yang panjangnya bervariasi. Pada umumnya dikelompokkan sebagai jenis komunikasi media massa sebab dipersiapkan dalam jumlah yang banyak untuk disebarluaskan.
Kesederhanaan sebaiknya menjadi kata kunci dalam mempersiapkan buletin, leaflet, folder atau pamflet. Keserhanaan disini dalam arti kesederhanaan dengan penampilan dengan penampilan menarik. Pesan yang terkandung dalam buletin, leaflet, folder atau pamflet harus jelas dan lengkap, singkat, tetapi tidak dibuat-buat. Ilustrasi dalam buletin penting terutama jika ilustrasi tersebut mendapat ruang dalam publikasi sehingga dapat melengkapi pesan tertulis dengan baik.
Untuk menulis cepat terdapat tips yang perlu diikuti, antara lain: a) megetahui pembaca, b) mempunyai tujuan dan kejar tujuan itu, dan c) mempunyai rencana dan ikuti rencana itu. Sementara itu, untuk menulis agar mudah dibaca ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yakni: a) seperti bercakap-cakap, b) gunakan kata-kata pendek, c) gunakan kata-kata personal, d) gunakan kalimat pendek dan bervariasi, e) gunakan paragraf pendek, f) susun kalimat secara logis dan g) cek tata bahasanya.



BAB 11
EVALUASI PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Evaluasi pendidikan orang dewasa adalah proses menentukan kekuatan atau nilai pekerjaan pendidik atau pembimbing pendidikan orang dewasa. Evaluasi adalah suatu cara mengukur hasil kegiatan pendidikan.
Berdasarkan tingkat formalitasnya, evaluasi dapat dibagi menjadi tiga tingkat yaitu: 1) evaluasi informal, 2) evaluasi semiformal, dan 3) evaluasi formal atau penelitian ilmiah. Evaluasi berdasarkan tujuannya dapat dibagi menjadi 1) evaluasi normatif, 2) evaluasi sumatif.
Suatu evaluasi mempunyai beberapa manfaat, yakni: 1) menentukan patokan awal, 2) mengetahui keberhasilan suatu kegiatan, 3) mencek secara periodik efektifitas suatu program, 4) memberikan rasa aman kepada pelaksana tugas, 5) memberi bukti konkret kepada pihak yang terkait, 6) meningkatkan profesionalisme kepada penerima evaluasi.
Tujuan evaluasi antara lain:
1. Untuk menentukan seberapa dekat peserta didik secara individual dan keseluruhan kelas telah mencapai tujuan umum yang telah ditentukan
2. Untuk mengukur tingkat perkembangan telah dicapai oleh peserta didik dalam waktu tertentu
3. Untuk menentukan efektifitas bahan, metode, dan kegiatan pengajaran.
4. Untuk membrerikan informasi yang bermanfaat bagi peserta didik, instruktur dan masyarakat.
Prinsip evaluasi digunakan untuk meningkatkan mutu pelaksana evaluasi antara lain: 1) mengembangkan sikap kritis, 2) mengenal bias pribadi, 3) melakukan observasi silang untuk menentukan seberapa jauh konsistennya masalah itu, 4) cek lebih jauh untuk menentukan apakah ada perilaku basa-basi, 5) pertimbangkan penyebab lain yang mungkin ada, 6) berhati-hati untuk tidak hanya membaca observasi yang kita harapkan saja dan mengabaikan interpretasi yang masuk akal, 7) dalam mengevaluasi hasil atau produk perilaku, gunakan kriteria untuk menilainya, 8) cek lebih jauh untuk menentukan apakah hasil atau produk yang diklaim seseorang benar-benar hasil orang itu, 9) kenali bahwa banyak perilaku yang saling menutupi satu sama lain, 10) pastikan apakah bukti yang kita amati adalah benat-benar bukti yang sebenarnya, 11) hindari tergesa-gesa membuat kesimpulan, hendaknya hati-hati dan secermat mungkin.
Prosedur evaluasi pendidikan orang dewasa menurut Morgan, et al. (1976) terdiri atas lebih kurang tujuh langkah. Ketujuh langkah tersebut tidak selalu diambil dalam setiap mengevaluasi metode, mata pelajaran, atau pencapaian peserta didik. Ketujuh langkah tersebut yaitu: 1) mengecek tujuan, 2) memeriksa apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan, 3) mengumpulkan bukti, 4) menentukan sumber bukti, 5) menentukan alat untuk memperoleh bukti, 6) menganalisis bukti, dan 7) menggunakan hasil.
Dalam bab ini juga disajikan ilustrasi evaluasi berupa dua contoh evaluasi seperti 1) Lembar saran Akhir Pertemuan yang dibagikan pada akhir pertemuan untuk mengevaluasi jalannya pertemuan, kelebihan dan kelemahan, serta mendapatkan saran-saran perbaikan untuk pertemuan yang akan datang, dan 2) Kartu penilaian yang digunakan oleh pimpinan dan peserta diskusi untuk mengevaluasi efektifitas diskusi.


the end

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar