Minggu, 15 Maret 2009

Rendah, Kepedulian Riset di Perguruan Tinggi

Belum lama ini, dunia kampus diwarnai polemik hangat seputar prosedur penerimaan mahasiswa. Pangkal persoalan polemik ialah dibukanya jalur khusus penerimaan mahasiswa dengan biaya sangat tinggi. Meskipun pihak perguruan tinggi bersikeras mengatakan bahwa biaya tinggi tersebut sebatas sumbangan dan bersifat tidak mengikat, tetap saja masyarakat luas menganggapnya sebagai upaya kapitalisasi, komersialisasi, dan sederet label lain dengan nada tak kalah peyoratifnya terhadap dunia pendidikan.

Kebijakan kurang populer yang dipilih kalangan perguruan tinggi tersebut sebenarnya merupakan implikasi langsung maupun tak langsung dari belum sinergisnya implementasi Tridharma Perguruan Tinggi yang dijalankan selama ini, terutama dalam hal riset (penelitian). Padahal, riset merupakan lini kegiatan yang mempunyai potensi amat besar, baik untuk pengembangan ilmu maupun kebutuhan finansial. Pendeknya, apa pun yang mengarah pada peningkatan mutu pendidikan.

Selama ini ada kesan kuat bahwa kegiatan riset seolah berjalan sendiri, terpisah dari upaya pendidikan dan pengajaran, serta pengabdian terhadap masyarakat. Akhirnya, pendidikan tidak mampu membuahkan cara meneliti yang baik dan tepat. Ujungnya, hasil riset pun tidak membumi, yang berarti tidak turut dinikmati manfaatnya oleh masyarakat luas. Mengenai dua motif yang melatarbelakangi riset di kalangan perguruan tinggi saat ini- memiliki pembenaran. Namun, daftar ini sesungguhnya masih dapat bertambah. menurut hemat penulis, baru menyentuh penelitian dari aspek sumber daya manusianya, belum kepada fasilitas dan pembiayaan riset itu yang selama ini menjadi titik lemah di sana-sini.

Agak Tertinggal

Insan akademisi sebenarnya tidak kalah kreatif dibandingkan dengan kalangan aktivis non pemerintah (LSM). Tapi, tampaknya, kalangan kampus ccnderung tertinggal oleh aktivis LSM dalam hal mencari patron-klien, mitra kerja, untuk sebuah proyek penelitian. Padahal, mitra kerja sangat penting dalam membangun kepercayaan (trust). Karena sifatnya kemitraan, diharapkan independensi perguruan tinggi tetap terjaga.

Pada kegiatan penelitian, sebenarnya cara kerja pengamatan amat dalam, menyentuh basis paling dasar sebuah objek. Memang, dalam perkembangan belakangan, mengikuti alur tradisi Marxian, apa yang disebut objek penelitian makin kabur. Tidak ada subjek-objek, tapi positioning keduanya saling meng-"interpenetrasi", terlebih lagi dalam ilmu humaniora. Dengan kata lain, tetap saja kemitraan dengan pihak mana pun sangat dibutuhkan. Selain masyarakat yang belum dijadikan mitra riset -sebab paradigmanya masih subjek-objek- demikian pula halnya dengan kalangan industri, korporasi, dan sebagainya.

Dunia korporasi sesungguhnya merupakan salah satu sektor amat potensial. Sayangnya, itu tampak belum tergarap oleh kalangan akademis. Kalau saja kalangan pengusaha dan akademisi dapat bersinergi, tentu kelesuan kegiatan riset bisa terkurangi. Sebab, fasilitas yang dimiliki oleh perguruan tinggi saat ini belum cukup untuk menunjang penelitian yang validitasnya terpenuhi. Belum lagi mengenai pembiayaannya. Bayangkan saja, alokasi dana untuk riset selama ini tidak lebih dari lima persen dari alokasi dana perguruan tinggi keseluruhan. Mungkinkah dengan dana yang minim tersebut bisa diusahakan fasilitas riset yang baik?

Dengan alokasi yang sangat minim tersebut, tidak heran kalangan dosen maupun praktisi pendidikan lebih tertarik pada dunia ajar-mengajar ketimbang meneliti yang membutuhkan energi amat besar namun minim kesejahteraan (Kompas, 20/02/2003).

Perlu Inovasi

Serba minimnya fasilitas maupun finansial mestinya bukan lonceng kematian bagi kegiatan riset. Yang perlu dilakukan ialah upaya menutupi sangat minimnya sumber daya tersebut. Karena itu, inovasi mutlak diupayakan.

Salah satu bentuk inovasi misalnya dapat berupa social capital atau modal sosial. Modal sosial ialah kesadaran untuk membentuk sebuah komunitas, individu beraliansi satu sama lain. Tumbuhnya asosiasi-asosiasi manufaktur di Eropa sebelum kapitalisme besar merupakan modal sosial yang sangat signifikan sehingga Eropa dapat seperti sekarang ini. Saat itu, perajin peniti saja mempunyai sebuah asosiasi.

Modus kerja asosiasi-asosiasi kecil prakapitalisme besar Eropa dapat ditiru oleh para peneliti. Kalau sebelum ini riset kerap dilakukan secara individual dan mandiri, kini pelaksanaannya dapat dilakukan secara kelompok. Hal itu pun masih ditambah lagi dengan catatan: jangan sampai praktiknya teramat birokratis. Suasana kerja ala LSM tampaknya patut dipertimbangkan.

Hal penting terakhir yang kerap dilupakan dunia penelitian ialah pentingnya HaKI (Hak Kekayaan Intelektual). Tampaknya, kesadaran akan pentingnya hal ini juga belum menjadi prioritas. Padahal, dipatenkannya sebuah karya (hasil penelitian), selain mendatangkan nilai finansial untuk kegiatan penelitian berikutnya, juga dapat memacu kreativitas. Kalau tidak, sampai kapan perguruan tinggi dapat dikatakan sebagai school based research? Sampai kapan pula peringkat dalam HDI (Human Development Index) perguruan tinggi di Indonesia terdongkrak? Sebab, sektor riset merupakan salah satu kriteria penilaian dan indikator perkembangan masyarakat. Alla kulli hal, apa yang dikemukakan di sini makin menegaskan rendahnya kepedulian kalangan perguruan tinggi pada riset.

sumber: http://re-searchengines.com/andriansyah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar